Minggu, 21 Februari 2010

Pariwisata Bali



Pariwisata di daerah Bali merupakan sektor paling maju dan berkembang, tetapi masih berpeluang untuk dikembangkan lebih modern lagi. Daerah ini memiliki obyek wisata yang beragam, baik wisata alam, wisata sejarah maupun wisata budaya. Wisata alam, misalnya meliputi 47 obyek wisata, seperti panorama di Kintamani, Pantai Kuta, Legian, Sanur, Tanah Lot, Nusa Panida, Nusa Dua, Karang Asem, Danau Batur, Danau Bedugul, Cagar Alam Sangieh, Taman Nasional Bali Barat,dan Taman Laut Pulau Menjangan.

Wisata budaya meliputi 83 obyek wisata, seperti misalnya wisata seni di Ubud, situs keramat Tanah Lot, upacara Barong di Jimbaran dan berbagai tempat seni dan galeri yang sekarang banyak bermunculan di beberapa tempat di Pulau Bali. Obyek wisata budaya ini sangat berkembang pesat, apalagi banyak karya seni yang dihasilkan oleh pelukis dan pematung dari Bali. Harga lukisan dan patung buatan Bali, harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, ada beberapa pelukis bule yang sudah lama menetap di Bali, seperti Mario Blanko, Arie Smith, Rudolf Bonner dan sebagainya.

Begitu pula dengan wisata sejarah, dapat dilihat berbagai peninggalan sejarah beberapa kerajaan seperti Karangasem, Klungkung, dan Buleleng. Potensi obyek wisata di Bali yang telah menyumbang devisa negara dan pendapatan asli daerah Bali, sebenarnya masih potensial untukdikembangkan lebih maju lagi. Kota Denpasar yang strategis dan memiliki fasilitas cukup baik dalam hal jasa perdagangan, serta punya bandar udara internasional, harus dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pelayanan pariwisata dan perdagangan internasional.

Data wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pada 1997, menurut BPS, mencapai 1.230.316 orang. Pada 1998, jumlah wisatawan asing agak menurun, yakni hanya 1.187.153 orang atau turun 3,51% dibandingkan 1997. sedangkan jumlah wisatawan domestik pada 1998 diperkirakan mencapai 300.000 orang. Para wisatawan itu berasal dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat , Kanada, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, Thailand, dan sebagainya. Jumlah hotel di seluruh Bali sampai 1998 ada sekitar 90 unti, dengan kapasitas kamar sebanyak 14.626 buah. Selain keindahan panoramanya, daya tarik pariwisata Bali antara lain juga dipengaruhi oleh kekhasan kesenian dan kebudayaannya, termasuk ritual agama Hindhu yang dianut mayoritas orang Bali, serta keramahan masyarakat di sana.

Sejak pertengahan 1980-an, di Bali mulai berkembang wisata jurang dan lembanh sungai. Salah seorang perintis wisata jurang ini adalah I Wayan Munut, yang membeli tanah di tepi jurang, untuk selanjutnya dibangun sebuah bungalow. Kemudian hal ini menjadi ngetrend di Bali hingga sekarang ini. Harga tanah yang pada awal 1980 di daerah lembah atau jurang ini hanya Rp 125.000-175.000 per are. Kini harga tanah jurang sudah mencapai ratusan juta rupiah per are. Ternyata banyak wisatawan mancanegara yang gemar (menggemari) wisata jurang, lembah, dan sungai ini.

Tempat hunian yang sekarang digemari wisatawan asing di Bali adalah Hotel yang dibangun di lereng-lereng tebing atau jurang, yang memberikan suasana magis bagi para penghuninya. Kalau pada 1970 hingga 1980-an, hotel tau losmen di tepi pantai yang mereka gemari, sekarang sudah berubah. Banyak wisman lebih senang menyepi atau menikmati wisata spiritual. Karena indahnya berbagai obyek pariwisata di Bali itu, citra (image) Bali lebih terkenal daripada Indonesia, di mata orang asing. Dan ini artinya dollar masih terus mengalir ke Pulau Dewata.


Catatan :

Kunjungan Wisatawan Ke Bali tembus 2,1 juta

Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada 2009 diyakini menembus angka 2,1 juta orang atau melampaui target yang hanya 1,8 juta orang.

“Kunjungan wisatawan dari Januari hingga Oktober 2009 telah mencapai 1,9 juta orang. Prediksi saya hingga akhir tahun ini mencapai 2,1 juta,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali Ida Bagus Subhiksu pada keteranganya di Denpasar, Senin.

Ia menegaskan bahwa angka 2,1 juta sangat mungkin tercapai melihat tingkat kunjungan wisatawan ke Bali yang terus meningkat. Indikator lain yang dapat dijadikan acuan adalah tingkat hunian hotel yang kini rata-rata mencapai 85 persen.

“Bahkan menjelang liburan akhir tahun beberapa hotel, terutama di kawasan Sanur, Nusa Dua dan Kuta telah mengalami penuh pesanan sehingga mereka terpaksa menolak pemesanan baru,” ujarnya.

Menurutnya, satu permasalahan yang kini masih menjadi kendala dalam pengembangan pariwisata Bali adalah distribusi wisatawan yang terpusat di Bali selatan. Padahal wilayah Bali utara, seperti Buleleng dan Bali timur, seperti Karangasem masih banyak memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan wilayah selatan.

Ia optimis Bali akan tetap menjadi salah satu tempat wisata favorit, baik bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Hanya saja Bali perlu menjaga keamanan dan juga berusaha untuk melakukan perbaikan terhadap paket wisata dan tujuan yang akan ditawarkan.

“Di sisi lain juga masih perlu adanya perbaikan infrastruktur sehingga wisatawan akan merasa aman dan nyaman selama berlibur di Bali,” katanya.

Dia mengungkapkan, tidak saja jumlah wisatawan mancanegara yang terus meningkat ke Bali, tetapi jumlah kunjungan wisatawan domestik. Secara rata-rata jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali pertahunnya mencapai 2 juta.

Pada tahun-tahun mendatang jumlah kunjungan wisatawan domestik dipastikan akan meningkat hingga dua kali lipat. Menyinggung target promosi di 2010, ia menyataakan tetap fokus untuk menggarap pasar-pasar potensial, seperti Australia dan Jepang. Tingkat kunjungan wisatawan Australia dan Jepang diprediksi tetap akan mendominasi wisatawan ke Bali.

“Masih banyak warga Australia dan Jepang yang belum mengetahui Bali dan mereka ingin datang ke Bali,” katanya.

Selain pasar Australia dan Jepang juga masih terdapat pasar Asia yang harus digarap dengan maksimal. Salah satunya wisatawan China. “Khusus untuk kawasan Asean, Malaysia merupakan pasar yang sangat potensial, sebab tingkat kunjungan wisatawan negara tetangga itu dari segi jumlah kini menduduki peringkat lima besar,” katanya.

ant/isw


Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3013&Itemid=1581

http://www.solopos.com/2009/channel/nasional/kunjungan-wisatawan-ke-bali-tembus-21-juta-10634
28 Desember 2009


Sumber Gambar :
http://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2009/11/bali_tanah-lot.jpg
http://www.indonesia-tourism.com/bali/map/bali-map-high.png

Peta Bali


View Larger Map

Sabtu, 20 Februari 2010

Sejarah Bali


Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.[3] Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.[4] Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.[rujukan?]

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.

Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.

Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.

Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.

Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5]

Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

Sumber Gambar:
http://www.2indonesia.com/maps/map_bali_regencies1.gif

Profil Kota Denpasar



Kota Denpasar terletak di tengah-tengah dari Pulau Bali, selain merupakan Ibukota Daerah Tingkat II, juga merupakan Ibukota Propinsi Bali sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perekonomian.Letak yang sangat strategis ini sangatlah menguntungkan, baik dari segi ekonomis maupun dari kepariwisataan karena merupakan titik sentral berbagai kegiatan sekaligus sebagai penghubung dengan kabupaten lainnya.

Wilayahnya sendiri berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah utara, Selat Badung atau Samudera HIndia di sebelah Selatan, Kabupaten Badung di sebelah barat dan Kabupaten Gianyar di sebelah timur. Terletak diantara 08 35" 31'-08 44" 49' lintang selatan dan 115 10" 23'-115 16" 27' Bujur timur.Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha.

Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim sehingga memiliki musim kemarau dengan angin timur (Juni-Desember) dan musim Hujan dengan angin barat (September-Maret) dan diselingi oleh musim Pancaroba.Suhu rata-rata berkisar antara 25,1 C-29,0 C dengan suhu maksimum jatuh pada bulan Nopember, sedangkan suhu minimum pada bulan Juli.Jumlah Curah Hujan tahun 2006 di Kota Denpasar berkisar 1.0-466.0 mm dan rata-rata 119,4 mm. Bulan basah (Curah Hujan >100 mm/bl) selama 4 bulan dari bulan Januari s/d April. Sedangkan bulan kering (Curah Hujan <100 mm/bl selama 8 bulan jatuh pada bulan Mei sampai Desember. Curah Hujan tertinggi terjadi pada pada bulan Januari (466.0 mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1.0 mm).

Kota Denpasar dengan luas lahan 12.778 Ha sampai tahun 2006, dengan luas lahan sawah 2.717 Ha masih berpeluang / potensi untuk mengembangkan pertanian pangan dan masih memadai. Selama kurang lebih lima tahun terakhir ini luas lahan sawah berkurang 2.882 Ha pada tahun 2002 menjadi 2.717 ha tahun 2006. Berarti menyusut rata-rata tiap tahun sekitar 5,72 %. Sampai tahun 2006 produksi sayuran masih berfluktuasi tinggi karena usaha ini dijalankan tidak seintensif tanaman padi dan masih dianggap sebagai kegiatan sampingan.

Karena lahan yang sangat terbatas, maka hanya sekitar 15 jenis komoditi buah-buahan diproduksi di Kota Denpasar yang cukup potensial adalah mangga, pepaya, jambu biji, sawo dan pisang.Sub Sektor perkebunan diarahkan pada program diversifikasi dan intensifikasi kebun-kebun rakyat seperti kebun kelapa rakyat dengan mengganti tanaman yang tua dan penanggulangan/pemberantasan hama kelapa dan pemanfaatan lahan-lahan yang kosong untuk ditanami kelapa unggul.

Sub sektor Peternakan sebagian masih merupakan Peternakan Rakyat yang umumnya menghasilkan ternak hanya untuk dikonsumsi. Namun belakangan ini sudah mulai berkembang ke usaha bisnis dengan memelihara ternak unggas dan ayam untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, juga tidak kalah pentingnya peternak babi sadle back sebagai komoditi ekspor dan keunggulan sapi Bali terus dikembangkan dengan kawin suntik atau inseminasi buatan.

Sub sektor perikanan masih berpotensi dalam menanggulangi kekurangan protein hewani penduduk dan wisatawan, dimana perairan yang ada cukup kaya akan jenis-jenis ikan laut, ikan air tawar dan payau. Untuk meningkatkan produksi ikan diarahkan pada usaha penangkapan pada perairan berpotensial dan peningkatan prasarana perikanan serta penyuluhan oleh petugas perikanan. Untuk perikanan laut telah tersedia pelabuhan perikanan Benoa yang didukung oleh Aramada penangakapan ikan sebanyak 794 buah berupa 46 perahu tanpa motor, 188 perahu tempel dan 560 kapal motor yang kesemuanya dilengkapi alat penangkap ikan.

Pembangunan di Sektor Industri khususnya Industri Kecil juga merupakan Sektor yang diprioritaskan pengembangannya, hal ini karena didukung oleh etos kerja masyarakat Bali pada umumnya rajin, ulet, terampil dan berjiwa seni. Penyuluhan dan bimbingan telah dilaksanakan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil-hasil industri kecil dan kerajinan rakyat yang berdaya guna di sektor Pariwisata.


Sumber Data:
Bali Dalam Angka 2006
(01-10-2006)
BPS Propinsi Bali
Jl. Raya Puputan No.1 Renon, Denpasar
Telp (0361) 238159
Fax (0361) 238162

Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=5171

Sumber :
http://www.baliairport.com/
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/11/DENPASAR.JPG

Mangupura Resmi Jadi Ibu Kota Kabupaten Badung

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi meresmikan Mangupura sebagai ibu kota Kabupaten Badung, Bali, Jumat (12/2). Peresmian itu sekaligus memindahkan ibu kota Badung dari Denpasar.

Mangupura berada di wilayah Kecamatan Mengwi da penetapan ibu kota kabupaten yang baru tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 67 Tahun 2009.

Makna dari kata Mangupura adalah kota yang menawan hati, tempat mencari keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

"Jadikanlah makna kata Mangupura sebagai sumber inspirasi bersama dalam membangun Badung dalam bingkai prinsip persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati," harap Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi.

Ia mengatakan, sejak pembentukan Pemerintah Kota Denpasar pada 1992 yang ditetapkan dengan Undang-Undang No 1 Tahun 1992, wilayah Denpasar tidak lagi masuk ke dalam wilayah teritorial Kabupaten Badung. Sejak itu pula Kabupaten Badung tidak memiliki ibu kota serta nama ibu kota.

Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Badung Wayan Sumbara yang juga koordinator acara peresmian ibu kota Mangupura mengatakan, Mangupura memiliki sembilan desa, yakni Desa Gulingan, Mengwitani, Kekeran, Kapal, Abianbase, Lukluk, Sading, Sempidi, dan Mengwi sebagai titik nol Mangupura.

Kabupaten Badung tercatat paling kaya di Bali dengan sumber pendapatan asli daerahnya diperoleh dari sektor pariwisata. Bahkan daerah yang memiliki sejumlah kawasan wisata terkenal seperti Nusa Dua, Kuta, Jimbaran, dan Seminyak itu selama ini menyumbangkan sebagian pendapatan pajak hotel dan restoran kepada enam kabupaten di Bali setiap tahun. (RS/OL-01)


Sumber :
Gede Ruta Suryana
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/12/122873/129/101/Mangupura-Resmi-Jadi-Ibu-Kota-Kabupaten-Badung
12 Februari 2010

Pariwisata Badung dan Denpasar Tetap Favorit


Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Bali memastikan iklim investasi di Pulau Dewata tetap bertahan di sektor pariwisata dibandingkan sektor lainnya seperti pertanian atau perkebunan. Bahkan, investor yang sudah mengantongi surat persetujuan rencana investasi sekitar lima tahun terakhir pun memilih Denpasar dan Badung untuk mengembangkan sektor pariwisata meski bagian selatan sudah mengalami kejenuhan.

Meskipun demikian, BPM Provinsi Bali masih optimis mampu menarik calon investor baik dari dalam negeri dan asing untuk menanamkan modalnya sebagai pengembangan Pulau Dewata bagian utara. Pada 2009, rencana penanam modal dalam negeri di Bali bagian utara seperti Buleleng tercatat Rp 10,5 triliun dan penanaman modal asing senilai Rp 80 miliar.

Kepala BPM Provinsi Bali Nyoman S Partha mengatakan, mahalnya tanah menjadi salah satu hambatan calon investor tidak tertarik menanamkan modalnya ke pertanian atau perkebunan selain faktor alam yang tidak menentu. Mereka memilih ke pulau lain seperti Kalimantan atau Sumatera. "Hanya saja, sektor pariwisata masih di atas angin karena kembali modalnya juga lebih cepat dibandingkan sektor lainnya," katanya.

Partha menambahkan pengembangan pariwisata bagian utara yang masuk daftar promosi BPM Bali antara lain kawasan Batu Ampar, Buleleng. Kawasan itu diharapkan mampu dikembangkan menjadi kawasan pantai yang menarik.

Tahun 2009, BPM Bali mencapai realisasi investasi dari PMA dan PMDN sekitar Rp 1,3 triliun. Rencana investasi tercatat melebihi target dari Rp 850 miliar menjadi Rp 13,7 triliun. Penyerapan tenaga kerja mencapai 2.340 orang.

Ketua Asosiasi Tour dan Travel Agen Indonesia (Asita) Bali, Al Purwa mengupayakan mengajak para agen untuk mempromosikan pariwisata di bagian utara. Alasannya, pemerataan pariwisata perlu ke berbagai wilayah agar wisatawan juga tidak jenuh mengunjungi Bali.

Ia menambahkan sebagian wisatawan asing maupun lokal merupakan turis yang sudah beberapa kali datang. "Karenanya, kami berharap para agen travel bisa lebih kreatif mengubah rute-rute selain meminimalkan kejenuhan wisatawan, juga bisa membuat pemerataan tidak hanya di Bali selatan saja," kata Al Purwa.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Bali jumlah hotel berbintang satu hingga lima terhitung 145 hotel dan 80 persennya berada di Badung. Sementara jumlah kamar hotel termasuk vila ilegal diperkirakan lebih dari 50.000 kamar dan angka itu melebihi idealnya sekitar 25.000 kamar.


Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/01/19/17485939/Pariwisata.Badung.dan.Denpasar.Tetap.Favorit
19 Januari 2010

Sumber Gambar:
http://balilovely.com/wp-content/uploads/2009/07/badung-map.jpg

Kuta (Badung) Primadona Wisata Bali




Perkembangan industri pariwisata di Bali, tidak terlepas dari berkembangnya Kuta sebagai daerah tujuan wisata dunia yang eksotik. Kuta menjadi lebih terkenal dibandingkan dengan daerah wisata lain di Bali, karena Kuta memiliki kemampuan menyerap wisatawan luar maupun domestik. Tidak mengherankan kalau kawasan ini dikenal sebagai trademark-nya pariwisata Bali bahkan Indonesia.

Kelurahan Kuta terletak di Kabupaten Badung, yang terdiri dari lima kelurahan yaitu, Kedonganan, Tuban , Kuta, Legian dan Seminyak.

Secara geografis Kuta memiliki luas wilayah 723 Ha, dan terdiri dari batas wilayah sebelah utara yaitu kelurahan legian, sebelah selatan, Tuban, sebelah Barat, samudara Indonesia, dan sebelah timur, desa pemogan.

Kecamatan Kuta pada tahun 2002, secara definitive dibagi tiga yaitu, kecamatan kuta, kuta utara, dan kuta selatan. Kecamatan kuta selatan adalah kecamatan di kabupaten badung, yang terdiri atas, Pecatu, Ungasan, Kutuh, Benoa, Tanjung Benoa dan Jimbaran.

Sementara, Kuta Utara adalah kecamatan di kabupaten badung Kecamatan ini mempunyai 6 kelurahan/desa: Kerobokan Klod, Kerobokan, Kerobokan Kaja, Tibu Beneng, Cangu dan Dalung. Di Kuta Selatan potensi pariwisata sangat berkembang, karena kawasan tersebut terkelola oleh tangan pemerintah, seperti hotel-hotel dan objek wisata lainnya.

Masyarakat di Kelurahan Kuta berperan aktif dalam indistri pariwisata, hal tersebut merupakan added value, karena masyarakat turut serta dalam pengembangan sektor pariwisata. Namun negatifnya, dari segi penataan ruang masyarakat kurang berkembang. Karena masyarakat selalu berebut dalam satu titik tertentu, seperti pengembangan hotel atau penginapan, ada warga yang berbisnis dengan menggunakan sebagian area dari tempat tinggal mereka yang disewakan sebagai tempat penginapan para tamu.

Perkembangan pariwisata di Kuta, mengalami fase krisis saat bom bali pada tahun 2002 dan 2005. Dimana selain korban jiwa yang besar, ledakan bom Bali membuat perekonomian Bali khususnya sektor pariwisata turun drastis. Pemulihan pariwisata merupakan langkah awal yang harus dilaksanakan dan ditempuh selain bekerjasama dengan seluruh komponen masyarakat Bali.

Langkah yang dilakukan merupakan promosi jangka panjang dan jangka pendek Langkah jangka pendek yang dilakukan yaitu dengan mengadakan promosi pariwisata, sementara langkah recovery jangka panjang yaitu dengan menyampaikan informasi dengan dunia internasional, tentang Bali sehingga para wisatawan tidak segan lagi berwisata ke Bali, khususnya di wilayah Kuta.

Perkembangan kuta dewasa ini kian hari semakin membaik, menurut Lurah Kuta, I Gede Suparta, hal tersebut dilatar belakangi oleh place (tempat), culture (budaya) dan experience (pengalaman).Kuta memiliki tempat atau lokasi yang indah, nyaman untuk wisatawan, Kuta juga memiliki budaya hindhu yang masih cukup kental di Bali, hal tersebut tentu menjadi nilai yang dianggap menarik bagi wisatawan, selain warga yang dikenal dengan keramah tamahannya.

Aspek terakhir yang mendukung berkembangnya Kuta sebagai tujuan pariwisata Bali yaitu pengalaman dari para wisatawan. Pengalaman mereka berkunjung ke Bali akan meninggalkan kesan, kesan tersebut yang akan disampaikan kepada rekan-rekan mereka. Secara tidak langsung promosi dari mulut ke mulut tersebut dapat membantu promosi akan Bali, khususnya Kuta. Jika dilihat dari segi hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata di kuta yaitu dari sisi charity, bahwa pariwisaata begitu global. Adanya anggapan bahwa pariwisata membawa dampak negative yang dapat mempengaruhi warga masyarakat, khususnya generasi muda.

Bicara mengenai budaya, Lurah Kuta memberikan pendapatnya tentang istilah kasepekan yang selama ini hangat dibicarakan di masyarakat, dan menjadi salah satu problematika yang belum terpecahkan. Beliau berpendapat bahwa, kasepekan merupakan suatu saksi yang diberikan kepada seseorang apabila seseorang tersebut melakukan suatu kesalahan di desa adatnya, sanksinya bisa berupa pengucilan.

Di Desa adat Kuta, istilah kasepekan tersebut tidak ada, dan para warga setidaknya sudah cukup dewasa dan mengerti akan awig-awig yang berlaku di desa adat Kuta sendiri.


Sumber :
KUTA, TRADEMARKNYA PARIWISATA BALI
Wawancara dengan Lurah Kuta
I Gede Supartha S.STP

http://www.e-banjar.com/content/view/169/207/lang,en/

Sumber Gambar:
http://www.badung.com/
http://warden.babcock.ca/1.%20My%20Travels/05.%20Aug%2003%20Bali%20Indonesia/Sunset%20at%20Kuta%204.jpg
http://i259.photobucket.com/albums/hh305/pratigajirogo/SunsetdiPantaiKutaBali.jpg

Kabupaten Badung


Kabupaten Badung adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia. Daerah ini yang juga meliputi Kuta dan Nusa Dua adalah sebuah obyek wisata yang terkenal. Ibu kotanya berada di Mangupura, dahulu berada di Denpasar[3]. Pada tahun 1999 terjadi kerusuhan besar di mana Kantor Bupati Badung di Denpasar dibakar sampai rata dengan tanah.

Kabupaten Badung saat ini dipimpin oleh seorang Bupati yang saat ini dijabat oleh Anak Agung Gde Agung yang berasal dari daerah Mengwi, dan sebagai Wakil Bupati yaitu I Ketut Sudikerta.

Kabupaten Badung berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, Kabupaten Tabanan di barat, dan Kabupaten Bangli, Gianyar serta kota Denpasar di sebelah timur.


Kecamatan

Petang
Mengwi
Abiansemal
Kuta
Kuta Utara
Kuta Selatan


Sejarah

Kabupaten Badung dulunya bernama Nambangan sebelum diganti oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan pada akhir abad ke-18. Dengan memiliki keris dan cemeti pusaka Beliau dapat menundukkan Mengwi dan Jembrana hingga tahun 1810, dimana Beliau akhirnya diganti oleh 2 orang raja berikutnya. Kematian Beliau seolah olah sudah diatur oleh penerusnya, barangkali saudaranya, Raja Kesiman yang memerintah dengan mencapai puncaknya tahun 1829 - 1863. Ia dapat dipengaruhi oleh kekuatan dari luar Bali dan menggantungkan harapan kepada Pemerintah Belanda pada saat itu.

Belanda diijinkan Beliau untuk mendirikan stasiunnya di Kuta di tahun 1826, sebagai balasan atas kerjasama itu Beliau mendapatkan hadiah yang sangat indah. Seorang pedagang berkebangsaan Denmark, bernama Mads Johansen Lange yang datang ke Bali pada usia 18 tahun dan memegang peranan sebagai mediator antara Pemerintah Belanda dan Bali dimana raja mendapat bagian yang cukup menarik. Mulai saat itu, Mads Lange yang lahir tahun 1806, dapat meningkatkan hubungan baik dengan raja-raja di Bali. Pada tahun 1856 Mads Lange sakit dan mohon pensiun, serta memutuskan untuk kembali ke Denmark, namun sayang dia meninggal pada saat kapal yang akan ditumpangi akan berangkat dan akhirnya dia dikubur di Kuta. Di samping itu Kuta juga dikenal sebagai tempat di mana Kapten Cornelis de Houtman dengan beberapa pengikutnya dihukum gantung tahun 1557, ketika 20.000 pasukan Bali kembali dari perjalanan mempertahankan Blambangan dari Kesultanan Mataram.

Kapal Belanda di Sanur

Di tahun 1904 sebuah kapal China berbendera Belanda bernama "Sri Komala" kandas di pantai Sanur. Pihak pemerintah Belanda menuduh masyarakat setempat melucuti, merusak dan merampas isi kapal dan menuntut kepada raja atas segala kerusakan itu sebesar 3.000 dolar perak dan menghukum orang-orang yang merusak kapal. Penolakan raja atas tuduhan dan pembayaran kompensasi itu, menyebabkan pemerintah Belanda mempersiapkan expedisi militernya yang ke 6 ke Bali pada tanggal 20 September 1906. Tiga batalyon infantri dan 2 batalyon pasukan arteleri segera mendarat dan menyerang Kerajaan Badung.

Setelah menyerang Badung, Belanda menyerbu kota Denpasar, hingga mencapai pintu gerbang kota, mereka belum mendapatkan perlawanan yang berarti namun tiba-tiba mereka disambut oleh segerombolan orang-orang berpakaian serba putih, siap melakukan "perang puputan" (mati berperang sampai titik darah terakhir). Dipimpin oleh raja para pendeta, pengawal, sanak saudara, laki perempuan menghiasi diri dengan batu permata dan berpakaian perang keluar menuju tengah-tengah medan pertempuran. Hal itu dilakukan karena ajaran agamanya bahwa tujuan ksatria adalah mati di medan perang sehingga arwah dapat masuk langsung ke sorga. Menyerah dan mati dalam pengasingan adalah hal yang paling memalukan.

Korban Perang Puputan Badung

Raja Badung beserta laskarnya yang dengan gagah berani dan tidak kenal menyerah serta memilih melakukan perang puputan akhirnya gugur demi mempertahankan kedaulatan dan kehormatan rakyat Badung.

Beberapa hari kemudian Belanda pun menyerang Tabanan, dan kemudian di tahun 1908 Kerajaan Klungkung juga melakukan puputan, dan dengan jatuhnya kerajaan Klungkung maka Belanda menguasai Bali sepenuhnya. Di tahun 1914 Belanda mengganti pasukan tentara dengan kepolisian sambil melakukan reorganisasi pemerintahan. Beberapa raja dicabuti hak politiknya, namun mereka tetap menjaga nilai kebudayaan dan raja pun masih berpengaruh kuat. Kota Denpasar yang terdiri dari 3 Kecamatan merupakan bagian dari Kabupaten Badung, sebelum ditetapkan sebagai Kota Madya pada tanggal 27 Februari 1993.


Obyek Wisata

Air terjun Nungnung
Atraksi Makotek
Ayung Rafting
Bumi Perkemahan Dukuh, Blahkiuh
Bungy Jumping
Desa Petang
Desa Wisata Baha
Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Geger Sawangan
Kawasan Nusa Dua
Mandala Wisata
Monumen Tragedi Kemanusiaan
Panggung Kesenian Kuta Timur
Pantai Canggu
Pantai Jimbaran
Pantai Kedonganan
Pantai Kuta, Legian, Seminyak
Pantai Labuan Sait
Pantai Nyang-Nyang
Pantai Suluban 699
Patung Satria Gatot Kaca
Penangkaran Penyu Deluang Sari
Pura Peti Tenget
Pura Pucak Tedung
Pura Sadha
Pura Taman Ayun
Pura Uluwatu
Safari Kuda
Sangeh
Taman Reptil Indonesia Jaya
Tanah Wuk
Tanjung Benoa
Waka Tangga
Water Boom Park
Wisata Agro Pelaga


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Badung

Kintamani, Pesona Gunung dan Danau Batur (Bangli)


Di daerah pegunungan sekitar Kintamani, terdapat Gunung Batur dengan danau kawah yang dalam dan mata air panas alami yang ada di Toyabungkah. Udara pegunungan yang sejuk disertai pemandangan ke seluruh arah, sama indahnya dengan keberadaan beberapa pura penting, yang telah membuat Kintamani menjadi salah satu tempat yang tidak terlupakan dalam agenda wisatawan Bali.

Gunung Batur adalah salah satu gunung berapi kecil, namun letaknya berada di tengah-tengah kawah besar berdiameter 14 Km. Selain itu, Gunung Batur bersebelahan dengan Danau Batur yang berbentuk sabit yang dikelilingi tembok tinggi pinggiran kawah. Ukuran kecuraman kawah akan membuat Anda membayangkan letusan dahsyat dari Gunung Batur yang terjadi sepuluh ribu tahun yang lalu.

Gunung ini masih aktif sampai sekarang seperti penduduk Bali yang masih mengingat letusan yang terjadi pada tahun 1917 tersebut dimana letusan tersebut telah mengambil ribuan nyawa dan menghancurkan ratusan rumah penduduk Desa Batur Tua yang berada di dasar kaldera Batur. Selajutnya masyarakat yang masih hidup akhirnya mengungsi ke Desa Batur yang sekarang (Kalangayar, yang berarti tempat yang baru.) Pura Ulundanu Batur yang sebelumnya juga berada di dasar kaldera di sebelah selatan Gunung Batur turut dipindahkan ke tempatnya yang sekarang.

Pesona yang ditawarkan disini lebih banyak kepada wisata pemandangan alam. Pemandangan alamnya yang berupa kombinasi pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur yang berdiri di tengah-tengah kaldera membuat daerah ini menjadi salah satu tujuan wisata paling favorit di Bali

Jika anda mempunyai waktu lebih dan suka petualangan atau fotografi, ada baiknya anda menginap di daerah sekitar Gunung Batur untuk kemudian besoknya melakukan pendakian Gunung Batur atau kaldera Batur di sebelah timur Gunung Batur sambil menikmati indahnya matahari terbit yang muncul dari balik Gunung Rinjani di Lombok.

Obyek wisata Kintamani dapat dicapai sekitar 2 jam perjalanan dari Denpasar atau Kuta. Bisa juga anda lewati ketika Anda inging berwisata ke Lovina.

Penginapan

Terdapat beberapa tempat penginapan mulai dari hotel berbintang sampai dengan jenis home stay di Kintamani. Anda dapat memilih salah satunya untuk menginap sesuai dengan budget Anda. Salah satu penginapan yang cukup baik di sekitar Kintamani adalah Penginapan Lakeside Cottages dan Under the Volcano II, yang berlokasi di Toyabungkah.

Restoran

Di Penelokan (tempat melihat-lihat), terdapat beberapa restoran, dimana Anda dapat beristirahat dan mendapatkan menyantap makanan yang sesuai dengan selera Anda.

Oleh-oleh khas Kintamani.

Kintamani terkenal dengan mascot jeruknya. Jeruk bias menjadi alternative oleh-oleh ketika Anda mengunjungi Kintamani. Tapi banyak juga bertebaran took-toko souvenir sepanjang perjalan Denpasar-Kintamani terutama yang melewati jalur Tampaksiring.

Apa yang menarik di Kintamani??

Wisata Trekking & Hiking di Gunung Batur atau Kaldera Batur

Jika anda punya waktu cukup dan suka petualangan kecil, ada baiknya anda menyempatkan diri menginap satu hari di Toya Bungkah untuk selajutnya mendaki ke puncak Gunung Batur untuk melihat matahari terbit. Anda dapat melakukan trekking ini dengan cara meminta pada sebuah kelompok guide lokal atau pelayanan wisatawan yang terdapat disana. Baca juga disini untuk artikel tentang wisata trekking Kalder Batur

Mengunjungi wisata kuburan Desa Trunyan

Desa Trunyan, merupakan salah satu Desa Tua, sering juga disebut Bali Aga atau Bali Mula. Masyarakat Desa Trunyan masih sangat memegang kuat tradisinya, terutama tradisi penguburan mayat. Penguburan mayat di Trunyan tidak dilakukan sebagaimana layaknya masyarakat di daerah lain menguburkan mayat. Mayat-mayat disana cuma dibungkus kain kafan selajutnya ditaruh di atas tanah dengan dikelilingi oleh “ancak saji” anyaman dari bamboo yang dibentuk sedemikian rupa, kemudian dipancangkan di sekeliling mayat. Hal yang unik adalah, meski mayat tidak ditanam dalam tanah, namun tidak mengeluarkan bau sedikit pun. Masyarakat percaya, bahwa bau mayat itu dinetralisir oleh pohon taru menyan yang tumbuh besar di areal pemakaman Desa Trunyan.

Menurut cerita masyarakat, jaman dahulu kala mayat sengaja tidak ditanam untuk menghalangi bau pohon taru menyan yang konon menyebar sampai ke Jawa. Karena raja yang berkuasa di Trunyan pada waktu itu takut daerahnya diserang lantaran harumnya pohon taru menyan, maka beliau berinisiatif menetralisir bau kelewat harum itu dengan tidak mengubur mayat masyarakat yang meniggal. Akhirnya sampai sekarang tradisi itu masih dipegang teguh oleh masyarakat.

Menikmati air panas alami di Toyabungkah

Toya Bungkah merupakan salah satu kawasan yang mempunyai air panas alami di Bali. Sampai-sampai pujangga sekaliber Sutan Takdir Alisjahbana mendirikan sebuah rumah yang selajutnya dipakai ajang seni oleh masyarakat sekitarnya pada tahun 70-80an. Ada dua macam air panas di sana, yang pertama dikelola oleh Yayasan milik Desa Adat Batur, sedangkan yang satu lagi dikelola oleh perusahaan. Ada baiknya anda coba air panas ini, karena dengan suhu yang mencapai 30-45 derajat air panas Toyabungkah dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

Mengunjungi Pura Ulundanun Batur

Pura Ulun Danu Batur, letaknya dekat dengan Desa Batur. Ini adalah pura terpenting setelah Besakih. Pura Batur merupakan salah satu pura Kahyangan Jagat, yaitu pura-pura terpenting di Pulau Bali. Sangat baik dikunjungi setiap waktu sepanjang tahun, khususnya selama Odalan, yang biasa terjadi pada Bulan Maret namun tergantung pada bulan purnama, dimana didedikasikan pada Dewi Danu. Danau Batur dipercaya sebagai sumber irigasi seluruh pulau Bali.

Sumber :
http://www.wisatabali.net/tempat-wisata/bangli/kintamani-pesona-gunung-dan-danau-batur.html

Sumber Gambar:
http://www.bpkp.go.id/unit/Bali/kintamani.jpg

Profil Kabupaten Bangli


Kabupaten Bangli terletak diantara 115' 13' 48" sampai 115' 27' 24" Bujur Timur dan 8' 8' sampai 8' 31' 87" Lintang Selatan. Posisinya berada ditengah-tengah Pulau Bali sehingga merupakan satu-satunya Kabupaten yang tidak memiliki pantai/laut.

Luas Kabupaten Bangli sebesar 520,81 Km atau 9,25% dari luas Propinsi Bali, ketinggian dari permukaan laut antar 100 2152 meter sehingga tanaman apa saja bisa tumbuh di daerah ini. Secara fisik dibagian Selatan merupakan daerah dataran rendah dan bagian utara merupakan pegunungan.Puncak tertinggi adalah Puncak Penulisan, terdapat Gunung Batur dengan kepundannya Danau Batur yang memiliki luas 1.067,50 Ha. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten ke Ibu Kota Propinsi sekitar 40 km. Wilayahnya sendiri berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung di sebelah selatan, Kabupaten Badung di sebelah barat dan Kabupaten Karangasem di sebelah timur.

Kesuburan tanah, sumber air yang memadai dari Danau Batur, dan hawa sejuk di sekitar Gunung Batur turut mendukung usaha pertanian. Pertanian memang menjadi gantungan hidup sebagian besar penduduk Bangli. Produk pertanian yang paling di minati sebagian besar petani Bangli adalah sayuran dan buah-buahan. Bawang merah, bawang putih, juga menjadi sayuran yang banyak di tanam di Kecamatan Kintamani, kecamatan yang paling luas di Bangli. Tanaman buah-buahan juga menjadi komoditas andalan Bangli. Jeruk keprok misalnya. Komoditi ini banyak ditanam di wilayah bagian utara meliputi Kecamatan Susut, Kintamani, Tembuku, dan Bangli. Budidaya buah jeruk dilakukan secara monokultur dan tumpang sari dengan tanaman kopi arabika.Komoditi andalan lain adalah kopi arabika.


Sumber Data:
Bali Dalam Angka 2006
(01-10-2006)
BPS Propinsi Bali
Jl. Raya Puputan No.1 Renon, Denpasar
Telp (0361) 238159
Fax (0361) 238162


Catatan :

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia. Obyek wisata di daerah ini antara lain adalah danau Kintamani. Ibu kotanya berada di Bangli. Bangli berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, kabupaten Klungkung dan Karangasem di timur, dan kabupaten Klungkung, Gianyar di selatan, serta Badung dan Gianyar di sebelah barat.

Pada tahun 2004, Bangli mempunyai luas sebesar 520,81 km². Penduduknya berjumlah 197.210 jiwa.

Bangli mempunyai 4 kecamatan, 4 kelurahan dan 56 desa. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

Kintamani
Susut
Tembuku
Bangli


Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=5106
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bangli

Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bangli

Kabupaten Buleleng


Kabupaten Buleleng adalah sebuah kabupaten di provinsi Bali, Indonesia. Ibu kotanya ialah Singaraja. Buleleng berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Jembrana di sebelah barat, Kabupaten Karangasem di sebelah timur,dan Kabupaten Bangli, Tabanan, dan Badung di sebelah selatan.

Panjang ruas pantai Kabupaten Buleleng sekitar 144 km, 19 km-nya melewati Kecamatan Tejakula. Selain sebagai penghasil pertanian terbesar di Bali (terkenal dengan produksi salak bali dan jeruk keprok Tejakula), Kabupaten Buleleng juga memiliki obyek pariwisata yang cukup banyak seperti pantai Lovina, pura Pulaki, Air Sanih, dan tentunya kota Singaraja sendiri.


Pembagian administratif

Buleleng dibagi kepada 9 kecamatan dan 148 desa/kelurahan. Kecamatan-kecamatannya adalah:

Gerokgak
Seririt
Busung Biu
Banjar
Buleleng
Sukasada
Sawan
Kubutambahan
Tejakula


Catatan :

Motto : 'Singa Ambaraja'
Provinsi : Bali
Ibu kota : Singaraja
Luas : 1.365,88 km²
Penduduk :
· Jumlah : 650.237 jiwa (2008)[1]
· Kepadatan : 476 jiwa/km²
Pembagian administratif :
· Kecamatan : 9
· Desa/kelurahan : 148[2]
Tanggal : 30 Maret 1604
Bupati : Drs. Putu Bagiada M.M
Kode area telepon : 0362

Sejarah Kota Singaraja (Buleleng)




Tersebutlah Istana Gelgel pada sekitar tahun 1568 dalam suasana tenang, dimana Raja Sri Aji Dalem Sigening menitahkan putranda Ki Barak Sakti, supaya kembali ketempat tumpah darah Bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama Bunda Siluh Pasek, setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot.

Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki Gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Sekali mereka makan ketupat, mereka sembahyang, kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Sri Luh Pasek, demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “YEH KETIPAT”. Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat.

Tersebutlah Ki Pungakan Gendis, pemimpin desa yang sekali-kali tiada menghiraukan keluh kesah para penduduknya. Ia memerintah hanya semata-mata untuk memenuhi nafsu buruknya, kesenangannya hanyalah bermain judi, terutama sabungan ayam. Oleh karena demikian sikap pemimpin Desa Gendis itu, maka makin lama makin dibenci rakyatnya, dan pada saat terjadi peperangan, ia dibunuh oleh Ki Barak Panji.

Desa Gendis di perintah oleh Ki Barak Panji, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji mendengar adanya kapal layer Tionghoa terdampar, kemudian timbullah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layer yang terdampar itu di pantai segara penimbangan. Setelah bantuannya berhasil, baginda mendapat hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok, dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar.

Kepemimpinan Ki Barak Panji makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan rakyatnya, mengadakan pembangunan di segala bidang baik fisik maupun spiritual. Oleh karena demikian maka sekalian penduduk Desa Gendis dan Sekitarnya, secara bulat mendaulat Baginda supaya menjadi Raja, yang kemudian dinobatkan dengan gelar “Ki Gusti Ngurah Panji Sakti”.

Untuk mencari tempat yang agak datar, maka Kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya di pindahkan ke Utara Desa Panji. Pada tempat yang baru inilah Baginda mendirikan istana lengkap dengan Kahyangan Pura Bale Agungnya. Guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka Baginda membuat seperangkat gamelan gong yang masing-masing di beri nama sebagai berikut :

· Dua buah gongnya di beri nama Bentar Kedaton

· Sebuah bendennya di beri nama Ki Gagak Ora

· Sebuah keniknya bernama Ki Tudung Musuh

· Teropong bernama Glagah Ketunon

· Gendangnya bernama Gelap Kesanga

· Keseluruhannya bernama “ Juruh Satukad”.

Karna perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, lurah kawasan Bondalem tunduk kepada Baginda. Kemudian atas kebijaksanaanya maka Kyai Alit Mandala, diangkat kembali menjadi lurah yang memerintah di kawasan Bondalem, Buleleng Bagian Timur.

Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “ SUKASADA” yang artinya slalu Besruka Ria.selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat.

Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.

Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.

Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.

Selanjutnya Istana Raja yang baru dibangun itu disebut “SINGARAJA” karena mengingat bahwa keperwiraan Raja Ki Gusti Ngurah Pnji Sakti tak ubahnya seperti Singa.

Demikianlah hari lahirnya Kota Singaraja pada tanggal 30 Maret 1604 yang bersumber pada sejarah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sedangkan nama Buleleng adalah nama asli jagung gambal atau jagung gambah yang banyak ditanam oleh penduduk pada waktu itu.


Sumber :
http://www.bulelengkab.go.id/profil-daerah/selayang-pandang

Sumber Gambar:
http://4.bp.blogspot.com/_UF3SGtlZJoo/SGdEslhkOGI/AAAAAAAAAFw/MozvAvOMR7A/s320/SINGARAJA2.jpg
http://thevineyardbali.com/images/the_vineyard_bali_%20singaraja_bali_big.gif
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/94/Singaraja_200507-8.jpg

Keelokan Ubud (Gianyar), Kota Terbaik Se-Asia



Ubud, kawasan wisata di Kabupaten Gianyar, Bali, mendapat penghargaan sebagai kota terbaik se-Asia berdasarkan survei pembaca majalah pariwisata yang berbasis di Amerika Serikat, Conde Nast Traveller, awal Januari lalu. Daerah itu dinilai terbaik dari sisi keramahtamahan masyarakatnya, atmosfer atau suasananya, budaya atau situsnya, serta akomodasi, restoran, dan tempat berbelanjanya.

Ubud dipilih sebagai kota terbaik se-Asia dengan skor 82,5, mengalahkan Bangkok, Hongkong, Chiang Mai, dan Kyoto.

Apa saja atau tempat mana saja di Ubud dan sekitarnya yang kiranya pantas menjadi semacam ikon wisata terbaik Asia itu? Bukankah atmosfer atau suasana di pusat Ubud, yakni sekitar Puri Ubud, tidak ada bedanya dengan Kuta, misalnya, yang mulai sumpek dan diwarnai kemacetan setiap harinya?

”Kita bersyukur dan gembira Ubud dipilih sebagai kota terbaik se-Asia dengan skor 82,5, mengalahkan Bangkok, Hongkong, Chiang Mai, dan Kyoto. Tetapi, hal itu juga membawa konsekuensi berat untuk menata kondisi yang ada, seperti kesemrawutan yang terjadi di mana-mana,” kata Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace di Puri Ubud, Sabtu (30/1/2010), saat menerima penghargaan itu.

Cok Ace, selain berbicara sebagai tokoh keluarga Puri Ubud, juga selaku Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali dan atas nama Ubud Hotels Association.

Menurut Cok Ace, hal mendesak yang perlu ditangani terutama kesemrawutan arus lalu lintas, parkir di perkotaan, pasar, penataan dan pengamanan kawasan pantai, serta daerah aliran Sungai Tukad Pakerisan.

Oleh karena itu, sekadar saran, luangkan waktu seharian penuh untuk telaten—ibarat mencari kutu—menikmati suasana Ubud. Cobalah ”membongkar” jalanan, tempat, sekaligus suasana di belakang Puri Ubud. Di sanalah keunikan dan keistimewaan kawasan wisata itu tersaji.

Letak Ubud yang relatif dekat dari Denpasar, sekitar 25 kilometer, menawarkan pilihan tempat menginap. Melalui Jalan By Pass Ngurah Rai dan By Pass Ida Bagus Mantra, dari Kuta hanya butuh waktu paling lama satu jam.

Dengan tinggal di kawasan Bali bagian selatan itu, wisatawan akan menikmati suasana pantai, di samping pedesaan yang masih kental suasana sawahnya.

Jika kocek Anda tebal, bolehlah menikmati aneka hotel mewah di pinggiran Sungai Ayung. Hotel dan vila di kawasan itu menyajikan beragam pemandangan spektakuler terasering sawah dan tebing kali.

Pilihan lain, cottage dan pondok wisata di sekitar Puri Ubud. Di sana Anda dapat berbaur dengan masyarakat. Sang pemilik pondok wisata bahkan melengkapi pelayanan dengan mebanten atau menyiapkan sesaji dan aneka perlengkapan upacara keagamaan.

Tempat persinggahan

Ada beberapa tempat persinggahan yang elok untuk dikunjungi di ”belakang” Ubud. Salah satunya adalah Tegallalang. Jika Anda penggemar sepeda, kenapa tidak mencoba menggunakan sepeda. Soal penyewaan, jangan khawatir. Ini Bali! Dengan sepeda, keseluruhan suasana sekitar akan mudah tertangkap.

Pastikan menyusuri sepanjang jalan menuju Tegallalang, desa yang terletak 5 kilometer arah utara Ubud. Desa itu adalah desa kerajinan kayu yang bersanding dengan panorama sawah berterasering. Sayang, hamparan pemandangan indah itu di beberapa titik sudah tertutup barisan rumah toko atau kios kerajinan. Masuklah ke jalan-jalan desa, salah satunya di Dusun Ceking. Pemandangan tersaji, suasana perajin pun tertangkap mata.

Keluar dari Tegallalang, arahkan perjalanan ke Pakudui, Sebatu. Pakudui terkenal sebagai desa penghasil patung-patung kayu, khusus berbentuk Garuda Wisnu Kencana (GWK). Di sanalah otentisitas pembuatan patung-patung GWK akan dapat dinikmati secara langsung. Patung seharga puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah ada di dusun itu. Puas dengan aneka kerajinan, siapkan diri Anda untuk mendapatkan suasana spiritual Bali, hanya 400 meter di timur Pakudui. Di sanalah Pura Gunung Kawi, Sebatu, berada.

Perasaan tenteram dan damai langsung terasa begitu kita berada di depan pura tersebut. Bagi Anda yang datang ke sana sebagai pelancong, pastikan terlebih dulu membayar tiket masuk Rp 7.000 (untuk dewasa) dan Rp 3.000 (anak-anak). Tiket masuk itu sudah termasuk untuk sewa kamen (kain jarit) yang harus dikenakan selama berada di area pura.

Situs www.babadbali.com mencatat, ada tiga pura bernama Gunung Kawi di Bali. Kebetulan semuanya berada di Kabupaten Gianyar. Selain di Sebatu, ada pula Pura Gunung Kawi Tampak Siring dan Bitra.

Jika waktu sudah tepat berada di tengah hari, sejumlah warung makan dan restoran di Ubud sudah menunggu. Jika Anda turis yang bisa memakan semua jenis makanan, warung babi guling Bu Oka di sebelah kompleks Puri Ubud layak dikunjungi.

Untuk makanan halal sangat beragam. Bebek Bengil yang ternama atau Warung Makan Nasi Campur Kadewatan Bu Mangku di Kadewatan tidak boleh ditinggalkan. Jika kesan formal kita temui di Bebek Bengil, suasana lebih rileks tersaji di Warung Bu Mangku. Maklum, meja lesehan digelar di teras kompleks rumah khas Bali itu.

Sekali lagi, ini Bali.... (BEN)


Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2010/02/04/0949100/Keelokan.Ubud..Kota.Terbaik.Se.Asia
4 Februari 2010

Sumber Gambar:
http://1.bp.blogspot.com/_M-PRzIv-XOk/R2ozg6SVlsI/AAAAAAAAAME/AZOpFfyguqo/s400/gianyarmap.jpg
http://www.indofamily.net/travel/images/stories/articlesimages/ubud1.jpg

Istana Tampaksiring, Gianyar



Istana Kepresidenan Tampaksiring berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut, berlokasi di atas perbuktian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Pulau Bali. Merupakan satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun masa pemerintahan Indonesia yang dibangun pada tahun 1957 - tahun 1960, sepenuhnya ditangani oleh putra-putra Indonesia, atas prakasa Presiden I Republik Indonesia : Soekarno.

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, tampak (bermakna telapak) dan siring (bermakna miring). Menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap, arsiteknya R.M Soedarsono. Pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira pada tahun 1957, dilanjutkan perampungan tahun 1963. Selanjutnya untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, di Bali pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, di bangun gedung baru dan merenovasi Balai Wantilan, bangunan pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Kori Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Istana Tampaksiring difungsikan disamping untuk acara-acara Presiden dan Wakil Presiden dalam hal kepemerintahan dan kenegaraan, juga peruntukan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakil Presiden peserta keluarga, serta bagi tamu-tamu negara. Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar); Presiden Tito dari Yogoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Unit Soviet, Ratu Juliana dari Belanda dan Kaisar Hirohito dari Jepang.

Komplek Istana Kepresidenan Tampaksiring kini terdiri dari lima gedung utama dan satu pendapa. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka (1.200 meter persegi) dan Wisma Negara (1.476 meter persegi) yang dipisahkan oleh celah bukit sedalam lebih kurang 15 meter namun terhubung dengan jembatan sepanjang 40 meter, tiga gedung utama yang lainnya diberi nama Wisma Yudhistira, Wisma Bima, dan ruang untuk konferensi, serta Balai Wantilan.


Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=127&Itemid=105


Sumber Gambar :
http://listiaji.files.wordpress.com/2009/07/img_3148.jpg
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=127&Itemid=105
http://www.berani.co.id/Artikel/istana_tampaksiring.jpg

Jembrana dan Kemajuan Teknologi Informasinya



Anda pernah mendengar obrolan atau membaca artikel tentang Kabupaten Jembrana yang ada di bagian barat Pulau Bali? Dan apakah obrolan atau tulisan itu seputar inovasi teknologi di Kabupaten Jembrana. Bila pernah, semua itu benar adanya. Bahkan kabupaten yang kurang lebih berjarak 100 kilometer dari Denpasar itu acap mendapat sorotan dari beberapa media, baik nasional maupun dunia.

Sangat wajar bila Kabupaten Jembrana menarik perhatian banyak media. Sebab, salah satu alasannya, di daerah tersebut telah berlaku kartu tanda penduduk (KTP) berwujud smart card yang bisa untuk mengakses semua layanan fasilitas umum. Kartu multifungsi itu disebut Jembrana Smart Card atau disingkap J-Smart. Boleh dibilang, kartu tersebut adalah salah satu terobosan Pemkab Jembrana dalam rangka meningkatkan kinerja layanan publiknya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Meski demikian, bentuk KTP milik penduduk di sana sama dengan KTP-KTP yang ada di Indonesia. Bedanya, KTP yang berlaku di Kabupaten Jembrana mempermudah warganya dalam segala hal yang bersifat layanan publik. KTP bernama J-Smart itu tidak hanya untuk pegawai pemkab, tetapi juga bagi siswa-siswa sekolah.

Bagi para siswa, J-Smart mampu mengintegrasikan tabungan siswa, pembayaran makanan di kantin sekolah, kartu perpustakaan, kartu diskon, kartu absensi, dan sekaligus menjadi kartu siswa. Jadi, ketika orang lain masih berpikir dan menginginkan layanan satu atap, justru warga Kabupaten Jembrana sudah menikmati semua layanan dengan satu kartu, mulai dari layanan pendidikan, kesehatan, kepegawaian, hingga bisnis.

Penggunaan J-Smart diresmikan pada 25 Agustus 2008 di Hotel Jimbarwana, Jembrana. Kartu ini adalah hasil inovasi dan kolaborasi Pemkab Jembrana dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali sebagai penyandang dana dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai pembuat perangkat lunaknya.

Berbeda dengan kartu ATM yang hanya memiliki magnetic stripe, J-Smart juga dilengkapi dengan chip sebagai media penyimpan data. Alhasil, kombinasi magnetic stripe dengan chip akan meningkatkan efisiensi dan memudahkan integrasinya dengan fungsi-fungsi lainnya, seperti mobile payment. Bahkan, untuk pemilihan bupati tahun depan, Jembrana juga merencanakan penggunaan e-voting, yakni sistem dengan pemakaian layar mesin touch screen. Kebijakan itu diambil karena dapat menghemat dana hingga 70 persen dibanding biaya pemilihan umum dengan sistem yang selama ini berlangsung, yaitu mencoblos atau mencontreng.

Sebelumnya, sistem touch screen telah diuji coba sebanyak empat kali pada pemilihan kepala dusun di Jembrana. Hasilnya, selain mengirit biaya karena tidak menggunakan kertas, cara tersebut juga bisa menghemat waktu. Dengan sistem ini, calon pemilih hanya menggunakan kartu tanda penduduk yang sudah dilengkapi chip penyimpan data untuk mendaftar, kemudian menuju bilik suara dan menyentuh gambar calon yang tertera pada layar monitor. Prosesi itu dilakukan tidak sampai setengah menit untuk satu pemilih. Hasil dari sistem ini bisa segera terpampang di layar monitor dan bisa dihitung seketika untuk diketahui siapa pemenangnya dan jumlah suara yang diperoleh.

Awalnya Hanya Kabupaten yang Miskin

Anda keliru bila menganggap Kabupaten Jembrana memiliki banyak modal sehingga mampu memberlakukan KTP semacam smart card dan berencana menyelenggarakan pemilu berteknologi touch screen. Sebab, sebelumnya, Jembrana memiliki dana yang sangat terbatas dan tergolong kabupaten miskin di Bali. Meski demikian, hal tersebut justru memicu pemerintah setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada.

Adalah Bupati Jembrana, I Gede Winasa, yang menjadi tokoh di balik besarnya nama Kabupaten Jembrana saat ini. Bekal pengalaman menimba ilmu di Universitas Hiroshima dan Universitas Tokushim (Jepang) mampu ia manfaatkan bagi Kabupaten Jembrana, terlebih sejak ia didapuk menjadi bupati pada tahun 2000. Salah-satu hal yang bisa ia tiru dari Negeri Sakura adalah implementasi teknologi informasi bagi semua sektor.

Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Winasa pun bisa dibilang sangat “pro rakyat”. Ia melibatkan sumber daya manusia yang seluruhnya berasal dari Jembrana untuk bersama-sama mewujudkan ide pembangunan teknologi digital. Ia menerapkan apa yang dinamakan manajemen "DOA", yaitu manajemen atas Dana, Orang, dan Aset. Dan yang menjadi pilar-pilar kokohnya adalah ketegasan dan ketelitian.

Bahkan, saat baru saja menjabat sebagai bupati, Winasa membentuk dewan antikorupsi sendiri. Para pejabat yang ketahuan gemar menyedot uang negara segara diperiksa, ditindak, diadili, dan dipecat. Bahkan guru-guru yang mencari uang tambahan dari murid pun bisa dipastikan terkena tindakan. Semua itu dilakukannya dengan berbekal filosofi bahwa "yang sakit diobati, yang rusak dicabut". Tak mengherankan bila banyak terdapat baliho bertulisan ”Anda Memasuki Kawasan Bebas Pungli” yang terpasang di tiap pintu gerbang masuk halaman Pemkab Jembrana.

Pembangunan teknologi digital di Kabupaten Jembrana memang telah menghabiskan biaya yang sangat besar. Dan ini barangkali menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, bagaimana mungkin Kabupaten Jembrana yang angka APBD-nya relatif kecil bisa membangun infrastruktur jaringan yang begitu besar, sementara banyak daerah lain yang angka APBD jauh lebih besar belum bisa membangun e-government dengan baik. Semua itu karena manajemen keuangan di Kabupaten Jembrana untuk pembangunan ICT dikelola secara baik dengan menggunakan strategi pembiayaan gotong royong.

Berkat penerapan teknologi digital secara optimal, pada tahun 2006 lalu, Kabupaten Jembrana berhasil meraih piala Citra Bhakti Abdi Negara, Piala Citra Pelayanan Prima, dan Piagam Penghargaan Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima. Selain itu, juga berkat keseriusan menerapkan teknologi, Pemkab Jembrana menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mampu mengolah air laut menjadi air minum tawar beroksigen.

Atas semua keberhasilan itu, hingga kini Winasa kerap dikunjungi para tamu dari berbagai instansi pemerintahan lainnya di seluruh Indonesia. Bahkan selama 2008, ia harus menerima tak kurang dari 500 tamu yang datang dari berbagai tingkatan, misalnya menteri, gubernur, kolega sesama bupati atau wali kota, dan kepala-kepala dinas yang ingin melakukan sudi banding.

Pengalaman Kabupaten Jembrana menunjukkan bahwa political will, terutama dari pemimpin daerah, adalah faktor penentu keberhasilan sebuah program kerja. Sepanjang sang pemimpin memiliki keberpihakan kepada rakyat dan memiliki pemikiran yang terbuka terhadap perkembangan teknologi, segala kelemahan atau keterbatasan pasti bisa diatasi.

*Diolah dari berbagai sumber

Sumber:
Bonny Dwifriansyah
http://www.satudunia.net/?q=content/jembrana-dan-kemajuan-teknologi-informasinya
31 Oktober 2009

Profil Kabupaten Jembrana



Kabupaten Jembrana berbatasan dengan Kabupaten Buleleng disebelah utara, Samudra Hindia disebelah selatan, Selat Bali disebelah barat, dan Kabupaten Tambana disebelah timur.Secara administratif Kabupaten Jambrana terbagi atas 4 kecamatan dengan luas wilayah 841,80 km2.

Perekonomian Kabupaten Jembrana banyak didukung oleh pertanian, perdagangan, hotel dan restoran. Kabupaten yang berbatasan dengan Samudra Hindia dan didukung oleh luas pantai 999 mil dan panjang pantai 76 kilometer ini membentang dari Gilimanuk sampai Desa Pengargogan. Produksi perikanan di kabupaten ini adalah yang terbesar di Pulau Bali. Komoditas perikanan laut mengandalkan pada produksi ikan lemuru. Produksi perikanan laut Jembrana tentunya tidak hanya lemuru saja tetapi masih banyak lagi seperti tongkol, layang, kuwe, kerapu, kakap, dan ikan laut lainnya. Potensi perikanan laut memicu munculnya industri pengolahan ikan dan industri pendukung seperti pabrik es.

Sebagai pendukung kegiatan perekonomian, Kabupaten Jembrana memiliki beberapa sarana dan prasarana penunjang diantaranya pelabuhan Gilimanuk.

Pemasaran komoditas hasil industri pengolahan ikan tidak hanya untuk dalam negeri saja, tetapi juga luar negeri. dengan negara tujuan Srilangka, Amerika, Eropa, Hongkong dan Malaysia. Pada sektor lainnya pertanian merupakan andalan Jembrana dengan pertanian tanaman pangan sebagai yang utama. Diluar dari sektor diatas Jembrana juga tidak meninggalkan perannya sebagai daerah wisata di Pulau Bali. Meskipun belum bisa mengandalkan pariwisata sebagai denyut perekonomian, industri kerajinan rakyat sebagai pendukung pariwisata telah cukup berkembang.

Letaknya yang ada diujung barat Pulau Bali, menjadikan kabupaten ini sebagai pintu gerbang Bali bahagian barat. Pelabuhan Gilimanuk sebagai pelabuhan penyeberangan dari Pulau Jawa ada diwilayah ini. Fasilitas-fasilitas pendukung pariwisata disekitar Pelabuhan Gilimanuk seperti toko-toko souvenir khas Bali sudah dibangun. Diharapkan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh wisatawan yang belum sempat membeli souvenir di wilayah Bali lainnya.


Sumber Data:
Bali Dalam Angka 2006
(01-10-2006)
BPS Propinsi Bali
Jl. Raya Puputan No.1 Renon, Denpasar
Telp (0361) 238159
Fax (0361) 238162


Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=5101


Sumber Gambar:
Profil Kabupaten Jembrana
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=5101

Lintasan Sejarah Kota Negara, Jembrana



Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat di interprestasikan bahwa munculnya komunitas di Jembrana sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara(Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular(Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah mentradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan(folklore) yang muncul telah memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan)

Raja dan pengikutnya yaitu rajyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain kraton, diberikan pula rakyat pengikut(wadwa),busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama "Ki Tatas" untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Kraton (Puri) Agung Jembrana.

Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Kraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Kraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Kraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Kraton (Puri) Agung Negara.

Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 - 1855). Ketika berlangsung pemerintahannya lah telah ditanda tangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.

Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 - 1882).

Pada masa Kerajaan Jembrana VI I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 - 1866) mengalami dua peralihan status yaitu 1855 - 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 - 1866 sebagai status Regent (Bupati) kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana.

Ketika reorganisasi pemerintahan di daerah diberlakukan berdasarkan Staatblad Nomor 123 tahun 1882, maka untuk wilayah aadministratif Bali dan Lombok diberi status wilayah administratif Keresidenan tersendiri. Wilayah Keresidenan Bali dan LOmbok dibagi lagi menjadi dua daerah (Afdelingen) yaitu Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana berdasarkan Staatblad Nomor 124 tahun 1882 dengan satu ibukota yaitu Singaraja. Selanjutnya daerah Afdeling Jembrana terbagi atas distrik-distrik yang pada waktu itu terdiri dari tiga distrik yaitu Distrik Negara, Distrik Jembrana, dan Distrik Mendoyo. Masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Punggawa. Selain distrik juga diberlakukan jabatan Perbekel, khusus yang mengepalai komunitas Islam dan komunitas Timur Asing sebagai kondisi daerah yang unik dari sudut interaksi dan integrasi antar etnik dan antar umat beragama.

Sejak reorganisasi tahun 1882 telah ditetapkan dan disyahkan nama satu ibukota untuk Keresidenan Bali dan Lombok yaitu Singaraja, yang akan membawahi daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Akan tetapi, pada proses waktu selanjutnya memperhatikan munculnya aspirasi masyarakat di dua daerah afdeling (Buleleng dan Jembrana), maka pihak Gubernemen menanggapi positif.

Respon positif pihak Gubernemen di Batavia dapat dibuktikan dengan diterbitkannya sebuah Lembaran Negara (Staatsblad) tersendiri untuk melakukan pembenahan (Reorganisasi) tata pemerintahan daerah di daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Pihak Gubernemen dan segenap jajaran bawahan di Departemen Dalam Negeri (Binnenlandsch Bestuur) sangat memperhatikan dan mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat untuk menetapkan nama-nama ibukota Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Pihak Gubernemen dalam pertimbangannya ingin mengakhiri kebiasaan yang menyebut nama Ibukota Afdeling Buleleng dan Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok dengan nama lebih dari satu. Semula ( Tahun 1882-1895) hanya diberlakukan satu nama Ibukota yaitu Singaraja untuk wilayah Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak disetujui dan untuk kemudian, ditetapkanlah nama-nama Ibukota daerah tersendiri terhadap Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok. Berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch - Indie Nomor 175 Tahun 1895, sampai seterusnya ditetapkanlah Singaraja dan Negara sebagai ibukota dari masing-masing Afdeling. Dengan demikian, sejak 15 Agustus 1895 berakhirlah nama satu ibu kota : Singaraja sebagai ibukota Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak itu pula dimulailah nama-nama Ibukota : Singaraja untuk Keresidenan Bali dan Lombok dan Daerah bagiannya di Afdeling Buleleng, serta Negara untuk Daerah Bagian Afdeling Jembrana.

Munculnya nama-nama Jembrana dan Negara hingga sekarang, memiliki arti tersendiri dari perspektif historis. Rupanya nama-nama yang diwarisi itu telah dipahatkan pada lembaran sejarah di Daerah Jembrana sejak digunakan sebagai nama Kraton ( Puri ) yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Oleh Karena Kraton atau Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Kraton-kraton (Puri) yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hinduistik. Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali.

Sejak 1 Juli 1938, Daerah (Afdeling, regentschap) Jembrana dan juga daerah-daerah afdeling (Onder-afdeling, regentschap) lainnya di Bali ditetapkan sebagai daerah-daerah swapraja (Zelfbestuurlandschapen) yang masing-masing dikepalai oleh Zelfbestuurder (Raja). Raja di Swapraja Jembrana ( Anak Agoeng Bagoes Negara ) dan Raja-raja di swapraja lainnya di seluruh Bali terlebih dahulu telah menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintah Gubernemen.

Anak Agung Bagoes Negara memegang tampuk pemerintahan di swapraja Jembrana secara terus-menerus selama 29 tahun meskipun terjadi perubahan tatanegara dalam sistem pemerintahan. Kepemimpinannya di Jembrana berlangasung paling lama dibandingkan dengan kepemimpinan yang dipegang oleh pejabat-pejabat pelanjutnya.Selama kepemimpinannya pula, dua nama yaitu Jembrana dengan ibukotanya Negara senantiasa terpateri dalam lembaran sejarah pemerintah di Jembrana, baik dalan periode Pendudukan Jepang (Tahun 1943-1945), peiode Republik Indonesia yang hanya beberapa bulan(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Indonesia Timur(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia(Tahun 1950-1958).

Jabatan Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Jembrana untuk pertama kalinya dijabat oleh Ida Bagus Gede Dosther dari tahun 1959 sampai tahun 1967. Pada periode selanjutnya jabatan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana dijabat oleh Bupati Kapten R. Syafroni (Tahun 1967-1969); Pjs Bupati Drs. Putu Suasnawa (11 Maret - 30 Juni 1969); Bupati I Ketut Sirya (30 Juli 1969-31 Juli 1974); Pjs Bupati Drs. I Nyoman Tastra (31 Juli 1974 - 28 Juli 1975); Bupati Letkol. Liek Rochadi (28 Juli 1975 - 26 Agustus 1980); Bupati Drs. Ida Bagus Ardana (26 Agustus 1980 - 27 Agustus 1990); Bupati Ida Bagus Indugosa,S.H Selama dua kali masa jabatan (27 Agustus 1990 - 27 Agustus 1995 dan dari 27 Agustus 1995 - 27 Agustus 2000); Plt Bupati I Ketut Widjana, S.H (28 Agustus 2000 - 15 Nopember 2000) dan Prof.Dr.drg. I Gede Winasa menjabat sebagai Bupati Jembrana sejak 15 Nopember 2000 sampai saat ini.

Dapat dikatakan bahwa, sejak gelar "Bupati" yang mengepalai pemerintahan di Daerah Tingkat II Jembrana untuk pertama kali diberlakukan pada tahun 1959 sampai saat ini, nama "Negara" sebagai ibukota Daerah Kabupaten Jembrana tetap dilestarikan.

Momentum historis yang sungguh-sungguh terjadi itu sudah berlalu dan saat ini 15 Agustus 2002, "Negara" senagai ibukota Jembrana senantiasa terpatri dalam sejarah permerintahan di Jembrana.


Sumber :
http://www.jembranakab.go.id/main.php?module=sejarah


Sumber Gambar:
http://www.jembranakab.go.id/main.php?module=foto

pntstudio.blogspot.com, dalam :
http://www.videosegames.com/index.php?key=PNTSTUDIO

Jumat, 19 Februari 2010

Profil Kabupaten Karangasem


Kabupaten Karangasem sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia. Ibu kotanya berada di Amlapura. Kabupaten ini secara geografis terletak antara 800'00" - 841'37,8" Lintang Selatan dan 11535'9,8" - 11554'8,9" Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Karangasem di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Selat Lombok, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Klungkung, Bangli dan Buleleng sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Karangasem 839,54 Km2 yang terbagi menjadi delapan kecamatan.

Keberadaan Industri kecil yang ada di Kabupaten Karangasem beraneka ragam dengan berbagai produk barang/ jasa yang dihasilkan seperti halnya industri yang bergerak bidang makanan, minuman, keperluan rumah tangga dan perkantoran, jasa service maupun kerajinan. Diantara industri kecil yang ada, industri kecil bidang kerajinan merupakan jumlah yang paling banyak.

Ada sekitar 14 Obyek Wisata yang tersebar di wilayah Kabupaten Karangasem sebagai pendukung investasi. Diantara Obyek wisata tersebut adalah Bukit Jambul, Besakih dan Telaga Waja (Kecamatan Rendang)Putung (KecamatanSelat) Iseh(Kecamatan Sidemen) Agrowisata Salak Sibetan (Kecamatan Bebandem) Puri Agung Karangasem, Taman Sukasada Ujung dan Candidasa (Kecamatan Karangasem) Taman Tirtagangga serta Jemeluk (Kecamatan Abang) Tenganan serta Padang Bai (KecamatanManggis) Tulamben ( Kecamatan Kubu).

Musibah gunung meletus yang pernah terjadi di kabupaten ini ternyata tidak hanya menimbulkan kerusakan wilayah tapi cukup memberikan keuntungan bagi wilayah ini. Letusan yang terjadi ternyata memuntahkan jutaan kubik pasir yang menutupi tanah di lima kecamatan. Masyarakat Kecamatan Kubu dan empat kecamatan lainnya sangat tertolong kehidupannya. Pasir itu bagaikan tambang emas hitam. Ketebalannya mencapai dua meter, untuk di tepi sungai bahkan mencapai lima meter.

Sektor peternakan pun menjadi potensi untuk peningkatan pendapatan masyarakatnya, terutama melalui pengembangan populasi ternak sapi dan domba, yang disertai pengembangan industri pengolahan produksi ternak.

Kabupaten ini mempunyai kain tenun yang cukup khas yaitu kain gringsing. Kain tenun ini terkenal di kalangan peneliti budaya dunia tidak saja dari segi mitosnya, tetapi juga dari segi teknik penenunannya. Pakar tekstil menyebutkan teknik penenunan kain gringsing yang rumit dan memakan waktu yang lama ini hanya dijumpai di tiga lokasi di dunia. Selain di Tenganan, Kabupaten Karangasem, Bali, teknik ini hanya terdapat di Jepang dan India.


Sumber Data:
Bali Dalam Angka 2006
(01-10-2006)
BPS Propinsi Bali
Jl. Raya Puputan No.1 Renon, Denpasar
Telp (0361) 238159
Fax (0361) 238162


Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=5107


Sumber Gambar:
http://balilovely.com/wp-content/uploads/2009/07/karangasem-map.jpg

Kondisi Kependudukan Karangasem


1. Keadaan Penduduk

Berdasarkan pemantauan Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Karangasem, jumlah penduduk di Kabupaten Karangasem pada tahun 2007 adalah sebanyak 427.481 jiwa, terdiri dari 214.030 jiwa laki-laki dan 213.451 jiwa wanita. Dengan jumlah rumah tangga sebanyak 102.913, dimana kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Sidemen, yaitu sebesar 962 jiwa per km2 dan kecamatan yang paling rendah kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Kubu, yaitu sebesar 301 jiwa per km2. Kepadatan penduduk untuk Kabupaten Karangasem adalah sebesar 509 jiwa km2. Sex ratio sebesar 100,27 yang menunjukkan jumlah penduduk laki-laki lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan, kecuali di Kecamatan Sidemen, Manggis, Bebandem, dan Selat memiliki sex ratio lebih kecil dari 100, yang berarti jumlah penduduk laki-laki kurang dari jumlah penduduk perempuan. Sedangkan Kecamatan Karangasem dan Kubu, sex rationya 100, yang berarti antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berimbang.


2. Tingkat Pendidikan

Pada Bidang Pendidikan jumlah murid Taman Kanak – Kanak di Kabupaten Karangasem tahun 2007 sebanyak 2.612 orang, murid Sekolah Dasar berjumlah 49.130 orang, untuk SD Negeri berjumlah 48.688 orang dan SD Swasta berjumlah 442 orang. Murid SLTP berjumlah 15.342 orang, murid SLTP Negeri 14.661 orang dan murid SLTP Swasta berjumlah 681 orang. Murid SMU berjumlah 7.280 orang, murid SMU Negeri 5.526 orang dan SMU Swasta 1.754 orang. Murid SMK berjumlah 1.034 orang, murid SMK Negeri 502 orang dan SMK Swasta 532 orang.

Jika ditinjau dari tingkat / taraf pendidikan, sebagian besar penduduk Kabupaten Karangasem tergolong masih sangat rendah. 52 % tidak tamat SD, 25 % tamat SD, 9 % tamat SMP, 11 % tamat SMA dan hanya 2 % yang tamat perguruan tinggi.


3. Ketenagakerjaan

Gambaran mengenai ketenagakerjaan Kabupaten Karangasem berdasarkan survey angkatan kerja nasional menunjukkan persentase angkatan kerja pada tahun 2007 adalah 81,13 % dimana persentase penduduk yang bekerja sebanyak 78,44 % dan pengangguran 2,69 %. Sedangkan persentase bukan angkatan kerja sebanyak 18,87 %, seperti sekolah 4,31 %, mengurus rumah tangga 10,22 %, dan lainnya 4, 34 %.


4. Agama

Penduduk Karangasem mayoritas beragama Hindu, yaitu sebanyak 407.565 orang, kemudia penduduk yang beragama Islam sebanyak 17.721 orang, Kristen 1.332 orang , Budha 624 orang dan Katholik berjumlah 239 orang.


Catatan:

Karangasem mempunyai 8 kecamatan, 3 kelurahan, 75 desa, 52 Lingkungan dan 552 dusun. 185 Desa Adat dan 605 Banjar Adat Kecamatan-kecamatannya adalah:

1. Kubu
2. Rendang
3. Abang
4. Sidemen
5. Selat
6. Bebandem
7. Karangasem
8. Manggis


Provinsi : Bali
Ibu kota : Amlapura
Luas : 839,54 km²
Penduduk :
· Jumlah 430.251 jiwa (2008)[1]
· Kepadatan 512 jiwa/km²
Pembagian administratif :
· Kecamatan 8
· Desa/kelurahan 78
Bupati : I Wayan Geredeg
Kode area telepon : 0363


Sumber :
http://karangasemkab.go.id/index.php/content/index/selayang_pandang
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Karangasem

Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Karangasem

Nusa Penida, Kab Klungkung



Nusa Penida, yang terletak di kabupaten Klungkung, adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung. Di dekat pulau ini terdapat juga pulau-pulau kecil lainnya yaitu Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Nusa Lembongan. Perairan pulau Nusa Penida terkenal dengan kawasan selamnya diantaranya terdapat di Penida Bay, Manta Point, Batu Meling, Batu Lumbung, Batu Abah, Toyapakeh dan Malibu Point.

Pulau Nusa Penida dapat dijangkau dari Sanur, Kusamba dan Padang Bay

Nusa Penida merupakan daerah kering dengan tekstur tanah berkapur. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani rumput laut, nelayan dan buruh, dan lainnya sebagai pedagang.

Perkembangan sektor pariwisata masih didominasi di Nusa Lembongan, sedang di Pulau Nusa Penida masih belum berkembang sama sekali, hanya terlihat aktivitas snorkeling dan diving.

Daya tarik utama kawasan Nusa Penida dan Nusa Lembongan adalah terumbu karang yang masih alami dan juga ikan yang beraneka ragam.

Untuk mencapai dan menikmati kawasan Nusa Penida, dapat juga ditempuh dengan QUicksilver Cruise dengan harga yang terjangkau.


Catatan :

TNC Imbau Pemkab Klungkung Lakukan Moratorium Pariwisata Pulau Nusa Penida

Organisasi The Nature of Conservation (TNC) merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung Bali untuk melakukan moratorium sementara pembangunan fasilitas pariwisata di kawasan Pulau Nusa penida.

Rekomendasi ini disampaikan menyusul berkembangnya fasilitas pariwisata berupa villa yang belum memiliki ijin di kawasan pulau seluas sekitar 20.000 hektar tersebut.

Saat ditemui Selebzone.com, Manager Program TNC Wilayah Nusa Penida, Marthen Willy mengatakan bahwa moratorium bertujuan bukan untuk melarang pembangunan fasilitas pariwisata tetapi menunda pembangunan sementara sambil menunggu penyusunan rencana detail tata ruang di pulau berpenduduk 50.000 orang tersebut. Dimana pembangunan fasilitas pariwisata kedepan sesuai dengan konsep daya dukung dan daya tampung sebuah pulau kecil.

“Resort yang besar akan membutuhkan air serta listrik yang banyak dan ini akan menyerap listrik dan air yang diperuntukkan bagi masyarakat, begitu juga perlu lahan yang luas sehingga cenderung akan menimbulkan konflik” papar Marthen Willy.

Selanjutnya Marthen Willy juga berharap Pemkab Klungkung Bali juga melakukan pengkajian terhadap investasi yang masuk agar sesuai dengan daya dukung dan daya tampung wilayah.

Untuk diketahui, berdasarkan catatan Kantor Kecamatan Nusa penida hingga saat ini di kawasan Pulau Nusa Penida terdapat 5 Villa yang telah beroperasi, 4 diantaranya belum memiliki ijin.(Mul)



Sumber :
http://www.e-kuta.com/wisata-bali/nusalembongan-nusapenida.htm
http://selebzone.com/2009/10/04/tnc-imbau-pemkab-klungkung-lakukan-moratorium-pariwisata-pulau-nusa-penida.html

Sumber Gambar:
http://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2009/04/nusa_penida800.gif
http://www.tropicalisland.de/DPS%20Bali%20Sanur%20beach%20people%20boarding%20the%20boat%20to%20Nusa%20Lembongan%20and%20Nusa%20Penida%20island%20b.jpg

Sejarah Klungkung



Pengungkapan sejarah Klungkung dalam periode tertentu yaitu dari smarapura
Sampai Puputan Klungkung , berlangsung selama 222 tahun diharapkan dapat membuka bidang penelitian dan penulisan sejarah lokal Indonesia. Kerajaan Klungkung berdiri bersamaan dengan dibangunnya kroton Smarapura tahun 1686 dan diakhiri dengan Puputan Klungkung tahun 1908 sebagai Kerajaan terakhir di Bali yang melakukan perlawanan dengan cara puputan dalam mempertahankan eksistensinya sebagai kerajaan yang merdeka terhadap meluasnya praktek politik kolonial Belanda di Nusantara. Dengan mengungkap sejarah Klungkung secara perosesual dan secara struktural maka kerangka sejarah lokal di indonesia akan makin tampak variasinya disetiap lokal. Tiap - tiap lokal memiliki cara - caranya sendiri untuk membangun kerajaannya dan kemudian mengadakan perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia.

Beberapa permasalahan yang telah diajukan pada bab pendahuluan perlu diberikan kerangka pemecahan. Pengungkapan masalah-masalah proses berdirinya kerajaan Klungkung, struktur pemerintahan kerajaan, hubungan kerajaan Klungkung terhadap kolonialisme Belanda, semuanya bertuijuan ingin memahami sikap para pelaku sejarah kerajaan atau dinamika intern kerajaan Klungkung pada jamannya. Di situ tampak juga sikap- sikap yang reaktip dan selektip pada jamannya. Ia akan terikat kepada tiga dimensi waktu yaitu waktu lampau, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang.

Dua makna dapat dipetik dari pengungkapan sejarah Klungkung dalam kesimpulan ini dan sekaligus dimaksud untuk memberi pemecahannya, yaitu sejarah Klungkung dalam kerangka sejarah Indonesia, dan sejarah Klungkung adalah satu bentuk kepribadian bangsa Indonesia. Makna pertama menitik beratkan kepada dimensi waktu lampau untuk memetik niali-nilai historis dalam konteks sejarah Indonesia. Sedangkan makna ke dua lebih menekankan pada dimensi waktu sekarang dan yang akan datang untuk memetik nilai-nilai di dalam sejarah Klungkung terutama nilai puputan sebagai satu bentuk kepribadian bangsa Indonesia yang bermanfaat dalam mengisi kemerdekaan dengan segala aktivis yang dilancarkan seperti pembangunan danmodernisasi itu sendiri. Oleh karena pembangunan dan modernisasi yang diterapkan senantiasa mempunyai implikasi etis, maka perlu dikembangkan pembangunan dan modernisasi yang berwajah manusiawi. Salah satu nilai manusiawi atau kepribadian nasional dapat digaliu dari sejarah daerahnya.


Sejarah Klungkung dalam kerangka sejarah Indoneia.

Wilayah Indonesia tidak merupakan konteks historis yang statis. Sebagai rangkaian hubungan-hubungan menunjukkan dinamika yang disebabkan oleh penggeseran dalam hubungan antara daerah-daerah. Konfigurasi antar daerah inilah yang menjadi kerangka sejarah Indonesia sebagai kesatuan. Sementara itu tidak boleh diabaikan kekuatan-kekuatan historis yang datang dari luar sebagai akibat dari rantai hubunmgan komersial selama periode V. O. C. dan kemudian perluasan kekuasaan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia. Apabila kita melihat darerah perdagangan budak sebagai suatu unit fungsional, maka wilayah kerajaan Klungkung menjadi sub unit dari hubungan komersial pada jamannya. Begitu juga apabila dilihat raksi-reaksi yang muncul berupa perlawanan yang dilakukan kerajaan Klungkung baik pada waktu Perang Kusamba tahun 1849 maupun Puputan Klungkung tahun 1908 sebagai unit fungsional, maka wilayah kerajaan Klungkung menjadi sub unit dari sejarah Indonesia sebagai unit.

Sesuai dengan perspektif Indonesiasentris yang muncul, terutama hendak menempatkan peranan bangsa Indonesia sendiri sebagai fokus proses sejarah, maka peranan kerajaan Klungkung selama 222 tahun beserta rangkaian historis yang melekat padanya tidak bisa diabaikan dari konteks sejarah Indonesia. Dapat dikatakan bahwa pada tingkat lokal seperti di Klungkung praktek politik kolonial tampak dengan jelas. Dinamika interen kerajaan Klungkung tampak jelas dalam sikapknya yang reaktip dan selektip dengan perlawanan yang dilakukan terhadap praktek - praktek politik kolonial Belanda. Dalam hubungan ini persoalan yang menarik ialah bagaimana kesatuan sosio-kultural kerajaan Klungkung mempertahankan dirinya dalam menghadapi pengaruh-pengaruh dari luar, kolonialisme Belanda.

Dengan pendekatan struktural dapat diungkapkan bahwa sebelum periode kolonial, kerajaan Klungkung memiliki sistem sosio-kulturalnya sendiri yang banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur Hindu dan tradisi Majapahit. Sedangkan selama periode kolonial yang ditandai oleh hubungan-hubungan dan intervensi kekuasaan kolonial yang semakin intensif, maka sejarah Klungkung berfokus pada aktivitas perlawanan kerajaan Klungkung terhadap kolonialisme .

Sebagai sebuah kerajaan secara struktur tampak unsur-unsur yang saling mengait di dalamnya. Hubungan antara kepemimpinan raja, Dewa Agung sebagai penjelmaan Wisnu [ gusti ] dengan rakyat [ kaula ] atau bagawanta [ surya ] dengan raja dan rakyatnya [ sisya ]. Stratifikasi sosial yang dipengaruhi oleh Hinduisme dengan pembagian yang mirip dengan kasta-kasta di India. Tradisi-tradisi kerajaan seperti ;tawan karang, mesatia, penobatan raja, hubungan dengan kerajaan-kerajaan laiannya, kerja sama antara kerajaan-kerajaan Bali dalam menghadapi musuh dari luar, hubungan kerajaan Klungkung dengan pemerintah Hindia Belanda . Tradisi -tradisi Majapahit seperti pusaka-pusaka keraton seperti keris dan tombak, asal usul keturunan raja bersal dari Majapahit.

Masayarakat kerajaan tradisional di Klungkung ternyata memperlihatkan cirri-ciri masyarakat yang bertingkat-tingkat sesuai dengan golongan-golongan yang ada. Golongan sebagai unsure justru memperlihatkan saling terkaitnya antara golongan dalam pelbagai bidang kehidupan dan secara bersama-sama membentuk satu struktur. Dalam situasi sosio-kultural seperti inilah kelompok elite yang memimpin tumbuh dan dibesarkan serta berpengaruh di masyarakat. Pengaruh yang sangat kuat tampak jelas dalam peran yang dimainkan oleh elite politik dan religius senantiasa bias dikembalikan pada golongan brahmana. Raja-raja yang memerintah sampai raja terakhir yaitu Dewa Agung Jambe dengan para kerabatnya yang memegang kekuasaan disatu pihak dan Bagawanta dipihak lain memiliki posisi sentral dalam pemerintahan di Klungkung, Posisi sentral kelompok pemimpin ini diperkuat lagi dengan adanya bentuk-bentuk kepercayaan yang bersifat magis. Kepercayaan terhadap kekuatan magis dan kitos tentang tokoh pemimpin terutama sangat menonjol sekitar pribadi raja, Dewa Agung, yang dianggap sebagai penjelmaan Wisnu. Benda-benda pusaka seperti keris, tombak dan meriam I Seliksik memegang peranan penting dalam menamhbah kewibawaan raja, yang memerintah.

Cara bertahan dan melawan kerajaan Klungkung terutama terhadap ekspedisi-ekspedisi militer Belanda tidak bias dicari dalam kondisi fisiknya saja, tetapi harus dicari juga dalam kondisi non fisik yang meliputi ideology dan system kepercayaan, kondisi politik, ekonomi dan social budaya kerajaan, kepemimpinan, pengerahan laskar dan sebagainya. Kondisi-kondisi tersebut saling kait mengait dan telah mematangkan situasi untuk kemudian meletus menjadi perlawanan yang amat spontan.

Kondisi politik yang telah mematangkan situasi perlawanan ialah usaha-usaha untuk mengurangi9 dan menyerahkan kedaulatan kerajaan Klungkung ke dalam wilayah Hindia Belanda, seperti perjanjian tahun 1841 yang disodorkan oleh Gubernemen Belanda kepada Dewa Agung di Klungkung. Dua Tahun kemudian yaitu pada tanggal 24 Mei 1843 diadakan perjanjian penghapusan tradisi tawan karang kerajaan Klungkung. Perjanjian ini telah menimbulkan rasa tidak senang dikalangan pejabat kerajaan seperti Dewa Agung Istri Balemas, Dewa Ketut Agung, Anak Agung Made Sangging dan pengikutnya. Ditambah dengan sebab-sebab lainnya seperti perampasan dua buah kapal yang kandas di Bandar Batulahak (Kusamba)keterlibatan laskar Klungkung dalam perang antara Buleleng dengan Militer Belanda di Jagaraga Tahun 1848 - 1849 mempertajam permusuhan antara pihak Belanda dengan pihak kerajaan Klungkung. Permusuhan dan rasa tidak puas Dewa Agung Istri Balemas memuncak, dan akhirnya meletus menjadi perang terbuka yaitu perang Kusamba Tahun 1849. Pada perang itulah Jendral Michiels tewas sebagai pimpinan ekspedisi militer Belanda.

Yang menarik dari peristiwa perang Kusamba menurut sumber penulis Belanda ialah munculnya tokoh wanita yaitu Dewa Agung Istri Balemas sebagai seorang sebagai seorang wanita yang sangat benci dan menentang intervensi Belanda dan ia dianggap pemimpin golongan yang senantiasa menggagalkan perjanjian perdamaian dengan pihak Belanda. Beberapa wanita di daerah-daerah lainnya di Nusantara yang termasuk yang termasuk tipe wanita seperti Dewa Agung Istri Balemas yang menarik perhatian penulis Belanda justru karena mereka melawan, menentang Belanda dapat disebutkan seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia di Aceh, R A Nyai Ageng Serang di Jawa Tengah dan Martha Christina Tiahahu di Maluku.

Diawal Abad ke - 20 disodorkan lagi perjanjian tentang Tapal Batas antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung, tepatnya pada tanggal 7 Oktober 1902. Setelah penandatanganan perjanjian Tapal Batas timbul perselisihan antara kerajaan Klungkung dengan Gubernemen mengenai Daerah Abeansemal, Vasal Kerajaan Klungkung yang berada di daerah kerajaan Gianyar. Dukungan raja Klungkung terhadap meletusnya perang Puputan di kerajaan Badung Tahun 1906 ditambah lagi menandatangani perjanjian tanggal 17 Oktober 1906 tentang kedaulatan Gubernemen atas kerajaan Klungkung menambah rasa benci dikalangan pembesar-pembesar kerajaan seperti Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Smarabawa yang sejak semula menolak menandatangani kontrak politik itu. Perjanjian yang disebut terakhir ini telah menurunkan status kenegaraan dan politik kerajaan Klungkung sebagai sesuhunan raja-raja Bali. Hal ini memperkuat sikap menentang Dewa Agung dan kalangan pembesar kerajaan yang memuncak pada perlawanan Puputan Klungkung tahun 1908. Perjanjian ini menunjukkan bahwa intervensi Belanda makin kentara dirasakan oleh I Dewa Agung dan pembesar kerajaan. Pengurangan pemasukan bagi kas kerajaan dan pembatasanhak berniaga kerajaan dirasakan sangat merugikan kerajaan.

Kondisi social budaya tampak makin goyahnya nilai-nilai tradisi karena makin meluasnya pengaruh kehidupan barat. Penghapusan adat mesatia di kerajaan Klungkung pada tahun 1904 merupakan bukti makin meluasnya pengaruh kehidupan barat. Dewa Agung dan pembesar dan pembesar kerajaan Klungkung timbul rasa khawatir akan punahnya nilai-nilai kehidupan tradisional mereka. Dalam hal ini ikatan tradisional dalam bentuk ketaatan terhadap atasan (kawula Gusti) merupakan factor kuat bagi terlaksanannya ajakan untuk menentang dan melawan.

Sistem kepercayaan yang sangat dipengaruhi oleh agama Hindu ternyata memegang peranan penting dan telah mewarnai tindakan perlawanan baik perang Kusamba maupun Puputan Klungkung. Kepercayaan terhadap karmapala mendorong para pengikut.

Sumber :
http://www.klungkungkab.go.id/

Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Klungkung
http://baliantiqueco.tripod.com/tengah_Klungkung.htm