Minggu, 21 Februari 2010

Pariwisata Bali



Pariwisata di daerah Bali merupakan sektor paling maju dan berkembang, tetapi masih berpeluang untuk dikembangkan lebih modern lagi. Daerah ini memiliki obyek wisata yang beragam, baik wisata alam, wisata sejarah maupun wisata budaya. Wisata alam, misalnya meliputi 47 obyek wisata, seperti panorama di Kintamani, Pantai Kuta, Legian, Sanur, Tanah Lot, Nusa Panida, Nusa Dua, Karang Asem, Danau Batur, Danau Bedugul, Cagar Alam Sangieh, Taman Nasional Bali Barat,dan Taman Laut Pulau Menjangan.

Wisata budaya meliputi 83 obyek wisata, seperti misalnya wisata seni di Ubud, situs keramat Tanah Lot, upacara Barong di Jimbaran dan berbagai tempat seni dan galeri yang sekarang banyak bermunculan di beberapa tempat di Pulau Bali. Obyek wisata budaya ini sangat berkembang pesat, apalagi banyak karya seni yang dihasilkan oleh pelukis dan pematung dari Bali. Harga lukisan dan patung buatan Bali, harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, ada beberapa pelukis bule yang sudah lama menetap di Bali, seperti Mario Blanko, Arie Smith, Rudolf Bonner dan sebagainya.

Begitu pula dengan wisata sejarah, dapat dilihat berbagai peninggalan sejarah beberapa kerajaan seperti Karangasem, Klungkung, dan Buleleng. Potensi obyek wisata di Bali yang telah menyumbang devisa negara dan pendapatan asli daerah Bali, sebenarnya masih potensial untukdikembangkan lebih maju lagi. Kota Denpasar yang strategis dan memiliki fasilitas cukup baik dalam hal jasa perdagangan, serta punya bandar udara internasional, harus dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pelayanan pariwisata dan perdagangan internasional.

Data wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pada 1997, menurut BPS, mencapai 1.230.316 orang. Pada 1998, jumlah wisatawan asing agak menurun, yakni hanya 1.187.153 orang atau turun 3,51% dibandingkan 1997. sedangkan jumlah wisatawan domestik pada 1998 diperkirakan mencapai 300.000 orang. Para wisatawan itu berasal dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat , Kanada, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, Thailand, dan sebagainya. Jumlah hotel di seluruh Bali sampai 1998 ada sekitar 90 unti, dengan kapasitas kamar sebanyak 14.626 buah. Selain keindahan panoramanya, daya tarik pariwisata Bali antara lain juga dipengaruhi oleh kekhasan kesenian dan kebudayaannya, termasuk ritual agama Hindhu yang dianut mayoritas orang Bali, serta keramahan masyarakat di sana.

Sejak pertengahan 1980-an, di Bali mulai berkembang wisata jurang dan lembanh sungai. Salah seorang perintis wisata jurang ini adalah I Wayan Munut, yang membeli tanah di tepi jurang, untuk selanjutnya dibangun sebuah bungalow. Kemudian hal ini menjadi ngetrend di Bali hingga sekarang ini. Harga tanah yang pada awal 1980 di daerah lembah atau jurang ini hanya Rp 125.000-175.000 per are. Kini harga tanah jurang sudah mencapai ratusan juta rupiah per are. Ternyata banyak wisatawan mancanegara yang gemar (menggemari) wisata jurang, lembah, dan sungai ini.

Tempat hunian yang sekarang digemari wisatawan asing di Bali adalah Hotel yang dibangun di lereng-lereng tebing atau jurang, yang memberikan suasana magis bagi para penghuninya. Kalau pada 1970 hingga 1980-an, hotel tau losmen di tepi pantai yang mereka gemari, sekarang sudah berubah. Banyak wisman lebih senang menyepi atau menikmati wisata spiritual. Karena indahnya berbagai obyek pariwisata di Bali itu, citra (image) Bali lebih terkenal daripada Indonesia, di mata orang asing. Dan ini artinya dollar masih terus mengalir ke Pulau Dewata.


Catatan :

Kunjungan Wisatawan Ke Bali tembus 2,1 juta

Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada 2009 diyakini menembus angka 2,1 juta orang atau melampaui target yang hanya 1,8 juta orang.

“Kunjungan wisatawan dari Januari hingga Oktober 2009 telah mencapai 1,9 juta orang. Prediksi saya hingga akhir tahun ini mencapai 2,1 juta,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali Ida Bagus Subhiksu pada keteranganya di Denpasar, Senin.

Ia menegaskan bahwa angka 2,1 juta sangat mungkin tercapai melihat tingkat kunjungan wisatawan ke Bali yang terus meningkat. Indikator lain yang dapat dijadikan acuan adalah tingkat hunian hotel yang kini rata-rata mencapai 85 persen.

“Bahkan menjelang liburan akhir tahun beberapa hotel, terutama di kawasan Sanur, Nusa Dua dan Kuta telah mengalami penuh pesanan sehingga mereka terpaksa menolak pemesanan baru,” ujarnya.

Menurutnya, satu permasalahan yang kini masih menjadi kendala dalam pengembangan pariwisata Bali adalah distribusi wisatawan yang terpusat di Bali selatan. Padahal wilayah Bali utara, seperti Buleleng dan Bali timur, seperti Karangasem masih banyak memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan wilayah selatan.

Ia optimis Bali akan tetap menjadi salah satu tempat wisata favorit, baik bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Hanya saja Bali perlu menjaga keamanan dan juga berusaha untuk melakukan perbaikan terhadap paket wisata dan tujuan yang akan ditawarkan.

“Di sisi lain juga masih perlu adanya perbaikan infrastruktur sehingga wisatawan akan merasa aman dan nyaman selama berlibur di Bali,” katanya.

Dia mengungkapkan, tidak saja jumlah wisatawan mancanegara yang terus meningkat ke Bali, tetapi jumlah kunjungan wisatawan domestik. Secara rata-rata jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali pertahunnya mencapai 2 juta.

Pada tahun-tahun mendatang jumlah kunjungan wisatawan domestik dipastikan akan meningkat hingga dua kali lipat. Menyinggung target promosi di 2010, ia menyataakan tetap fokus untuk menggarap pasar-pasar potensial, seperti Australia dan Jepang. Tingkat kunjungan wisatawan Australia dan Jepang diprediksi tetap akan mendominasi wisatawan ke Bali.

“Masih banyak warga Australia dan Jepang yang belum mengetahui Bali dan mereka ingin datang ke Bali,” katanya.

Selain pasar Australia dan Jepang juga masih terdapat pasar Asia yang harus digarap dengan maksimal. Salah satunya wisatawan China. “Khusus untuk kawasan Asean, Malaysia merupakan pasar yang sangat potensial, sebab tingkat kunjungan wisatawan negara tetangga itu dari segi jumlah kini menduduki peringkat lima besar,” katanya.

ant/isw


Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3013&Itemid=1581

http://www.solopos.com/2009/channel/nasional/kunjungan-wisatawan-ke-bali-tembus-21-juta-10634
28 Desember 2009


Sumber Gambar :
http://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2009/11/bali_tanah-lot.jpg
http://www.indonesia-tourism.com/bali/map/bali-map-high.png

Peta Bali


View Larger Map

Sabtu, 20 Februari 2010

Sejarah Bali


Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.[3] Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.[4] Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.[rujukan?]

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.

Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.

Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.

Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.

Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5]

Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

Sumber Gambar:
http://www.2indonesia.com/maps/map_bali_regencies1.gif

Profil Kota Denpasar



Kota Denpasar terletak di tengah-tengah dari Pulau Bali, selain merupakan Ibukota Daerah Tingkat II, juga merupakan Ibukota Propinsi Bali sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perekonomian.Letak yang sangat strategis ini sangatlah menguntungkan, baik dari segi ekonomis maupun dari kepariwisataan karena merupakan titik sentral berbagai kegiatan sekaligus sebagai penghubung dengan kabupaten lainnya.

Wilayahnya sendiri berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah utara, Selat Badung atau Samudera HIndia di sebelah Selatan, Kabupaten Badung di sebelah barat dan Kabupaten Gianyar di sebelah timur. Terletak diantara 08 35" 31'-08 44" 49' lintang selatan dan 115 10" 23'-115 16" 27' Bujur timur.Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha.

Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim sehingga memiliki musim kemarau dengan angin timur (Juni-Desember) dan musim Hujan dengan angin barat (September-Maret) dan diselingi oleh musim Pancaroba.Suhu rata-rata berkisar antara 25,1 C-29,0 C dengan suhu maksimum jatuh pada bulan Nopember, sedangkan suhu minimum pada bulan Juli.Jumlah Curah Hujan tahun 2006 di Kota Denpasar berkisar 1.0-466.0 mm dan rata-rata 119,4 mm. Bulan basah (Curah Hujan >100 mm/bl) selama 4 bulan dari bulan Januari s/d April. Sedangkan bulan kering (Curah Hujan <100 mm/bl selama 8 bulan jatuh pada bulan Mei sampai Desember. Curah Hujan tertinggi terjadi pada pada bulan Januari (466.0 mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1.0 mm).

Kota Denpasar dengan luas lahan 12.778 Ha sampai tahun 2006, dengan luas lahan sawah 2.717 Ha masih berpeluang / potensi untuk mengembangkan pertanian pangan dan masih memadai. Selama kurang lebih lima tahun terakhir ini luas lahan sawah berkurang 2.882 Ha pada tahun 2002 menjadi 2.717 ha tahun 2006. Berarti menyusut rata-rata tiap tahun sekitar 5,72 %. Sampai tahun 2006 produksi sayuran masih berfluktuasi tinggi karena usaha ini dijalankan tidak seintensif tanaman padi dan masih dianggap sebagai kegiatan sampingan.

Karena lahan yang sangat terbatas, maka hanya sekitar 15 jenis komoditi buah-buahan diproduksi di Kota Denpasar yang cukup potensial adalah mangga, pepaya, jambu biji, sawo dan pisang.Sub Sektor perkebunan diarahkan pada program diversifikasi dan intensifikasi kebun-kebun rakyat seperti kebun kelapa rakyat dengan mengganti tanaman yang tua dan penanggulangan/pemberantasan hama kelapa dan pemanfaatan lahan-lahan yang kosong untuk ditanami kelapa unggul.

Sub sektor Peternakan sebagian masih merupakan Peternakan Rakyat yang umumnya menghasilkan ternak hanya untuk dikonsumsi. Namun belakangan ini sudah mulai berkembang ke usaha bisnis dengan memelihara ternak unggas dan ayam untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, juga tidak kalah pentingnya peternak babi sadle back sebagai komoditi ekspor dan keunggulan sapi Bali terus dikembangkan dengan kawin suntik atau inseminasi buatan.

Sub sektor perikanan masih berpotensi dalam menanggulangi kekurangan protein hewani penduduk dan wisatawan, dimana perairan yang ada cukup kaya akan jenis-jenis ikan laut, ikan air tawar dan payau. Untuk meningkatkan produksi ikan diarahkan pada usaha penangkapan pada perairan berpotensial dan peningkatan prasarana perikanan serta penyuluhan oleh petugas perikanan. Untuk perikanan laut telah tersedia pelabuhan perikanan Benoa yang didukung oleh Aramada penangakapan ikan sebanyak 794 buah berupa 46 perahu tanpa motor, 188 perahu tempel dan 560 kapal motor yang kesemuanya dilengkapi alat penangkap ikan.

Pembangunan di Sektor Industri khususnya Industri Kecil juga merupakan Sektor yang diprioritaskan pengembangannya, hal ini karena didukung oleh etos kerja masyarakat Bali pada umumnya rajin, ulet, terampil dan berjiwa seni. Penyuluhan dan bimbingan telah dilaksanakan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil-hasil industri kecil dan kerajinan rakyat yang berdaya guna di sektor Pariwisata.


Sumber Data:
Bali Dalam Angka 2006
(01-10-2006)
BPS Propinsi Bali
Jl. Raya Puputan No.1 Renon, Denpasar
Telp (0361) 238159
Fax (0361) 238162

Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=5171

Sumber :
http://www.baliairport.com/
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/11/DENPASAR.JPG

Mangupura Resmi Jadi Ibu Kota Kabupaten Badung

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi meresmikan Mangupura sebagai ibu kota Kabupaten Badung, Bali, Jumat (12/2). Peresmian itu sekaligus memindahkan ibu kota Badung dari Denpasar.

Mangupura berada di wilayah Kecamatan Mengwi da penetapan ibu kota kabupaten yang baru tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 67 Tahun 2009.

Makna dari kata Mangupura adalah kota yang menawan hati, tempat mencari keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

"Jadikanlah makna kata Mangupura sebagai sumber inspirasi bersama dalam membangun Badung dalam bingkai prinsip persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati," harap Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi.

Ia mengatakan, sejak pembentukan Pemerintah Kota Denpasar pada 1992 yang ditetapkan dengan Undang-Undang No 1 Tahun 1992, wilayah Denpasar tidak lagi masuk ke dalam wilayah teritorial Kabupaten Badung. Sejak itu pula Kabupaten Badung tidak memiliki ibu kota serta nama ibu kota.

Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Badung Wayan Sumbara yang juga koordinator acara peresmian ibu kota Mangupura mengatakan, Mangupura memiliki sembilan desa, yakni Desa Gulingan, Mengwitani, Kekeran, Kapal, Abianbase, Lukluk, Sading, Sempidi, dan Mengwi sebagai titik nol Mangupura.

Kabupaten Badung tercatat paling kaya di Bali dengan sumber pendapatan asli daerahnya diperoleh dari sektor pariwisata. Bahkan daerah yang memiliki sejumlah kawasan wisata terkenal seperti Nusa Dua, Kuta, Jimbaran, dan Seminyak itu selama ini menyumbangkan sebagian pendapatan pajak hotel dan restoran kepada enam kabupaten di Bali setiap tahun. (RS/OL-01)


Sumber :
Gede Ruta Suryana
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/12/122873/129/101/Mangupura-Resmi-Jadi-Ibu-Kota-Kabupaten-Badung
12 Februari 2010

Pariwisata Badung dan Denpasar Tetap Favorit


Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Bali memastikan iklim investasi di Pulau Dewata tetap bertahan di sektor pariwisata dibandingkan sektor lainnya seperti pertanian atau perkebunan. Bahkan, investor yang sudah mengantongi surat persetujuan rencana investasi sekitar lima tahun terakhir pun memilih Denpasar dan Badung untuk mengembangkan sektor pariwisata meski bagian selatan sudah mengalami kejenuhan.

Meskipun demikian, BPM Provinsi Bali masih optimis mampu menarik calon investor baik dari dalam negeri dan asing untuk menanamkan modalnya sebagai pengembangan Pulau Dewata bagian utara. Pada 2009, rencana penanam modal dalam negeri di Bali bagian utara seperti Buleleng tercatat Rp 10,5 triliun dan penanaman modal asing senilai Rp 80 miliar.

Kepala BPM Provinsi Bali Nyoman S Partha mengatakan, mahalnya tanah menjadi salah satu hambatan calon investor tidak tertarik menanamkan modalnya ke pertanian atau perkebunan selain faktor alam yang tidak menentu. Mereka memilih ke pulau lain seperti Kalimantan atau Sumatera. "Hanya saja, sektor pariwisata masih di atas angin karena kembali modalnya juga lebih cepat dibandingkan sektor lainnya," katanya.

Partha menambahkan pengembangan pariwisata bagian utara yang masuk daftar promosi BPM Bali antara lain kawasan Batu Ampar, Buleleng. Kawasan itu diharapkan mampu dikembangkan menjadi kawasan pantai yang menarik.

Tahun 2009, BPM Bali mencapai realisasi investasi dari PMA dan PMDN sekitar Rp 1,3 triliun. Rencana investasi tercatat melebihi target dari Rp 850 miliar menjadi Rp 13,7 triliun. Penyerapan tenaga kerja mencapai 2.340 orang.

Ketua Asosiasi Tour dan Travel Agen Indonesia (Asita) Bali, Al Purwa mengupayakan mengajak para agen untuk mempromosikan pariwisata di bagian utara. Alasannya, pemerataan pariwisata perlu ke berbagai wilayah agar wisatawan juga tidak jenuh mengunjungi Bali.

Ia menambahkan sebagian wisatawan asing maupun lokal merupakan turis yang sudah beberapa kali datang. "Karenanya, kami berharap para agen travel bisa lebih kreatif mengubah rute-rute selain meminimalkan kejenuhan wisatawan, juga bisa membuat pemerataan tidak hanya di Bali selatan saja," kata Al Purwa.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Bali jumlah hotel berbintang satu hingga lima terhitung 145 hotel dan 80 persennya berada di Badung. Sementara jumlah kamar hotel termasuk vila ilegal diperkirakan lebih dari 50.000 kamar dan angka itu melebihi idealnya sekitar 25.000 kamar.


Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/01/19/17485939/Pariwisata.Badung.dan.Denpasar.Tetap.Favorit
19 Januari 2010

Sumber Gambar:
http://balilovely.com/wp-content/uploads/2009/07/badung-map.jpg

Kuta (Badung) Primadona Wisata Bali




Perkembangan industri pariwisata di Bali, tidak terlepas dari berkembangnya Kuta sebagai daerah tujuan wisata dunia yang eksotik. Kuta menjadi lebih terkenal dibandingkan dengan daerah wisata lain di Bali, karena Kuta memiliki kemampuan menyerap wisatawan luar maupun domestik. Tidak mengherankan kalau kawasan ini dikenal sebagai trademark-nya pariwisata Bali bahkan Indonesia.

Kelurahan Kuta terletak di Kabupaten Badung, yang terdiri dari lima kelurahan yaitu, Kedonganan, Tuban , Kuta, Legian dan Seminyak.

Secara geografis Kuta memiliki luas wilayah 723 Ha, dan terdiri dari batas wilayah sebelah utara yaitu kelurahan legian, sebelah selatan, Tuban, sebelah Barat, samudara Indonesia, dan sebelah timur, desa pemogan.

Kecamatan Kuta pada tahun 2002, secara definitive dibagi tiga yaitu, kecamatan kuta, kuta utara, dan kuta selatan. Kecamatan kuta selatan adalah kecamatan di kabupaten badung, yang terdiri atas, Pecatu, Ungasan, Kutuh, Benoa, Tanjung Benoa dan Jimbaran.

Sementara, Kuta Utara adalah kecamatan di kabupaten badung Kecamatan ini mempunyai 6 kelurahan/desa: Kerobokan Klod, Kerobokan, Kerobokan Kaja, Tibu Beneng, Cangu dan Dalung. Di Kuta Selatan potensi pariwisata sangat berkembang, karena kawasan tersebut terkelola oleh tangan pemerintah, seperti hotel-hotel dan objek wisata lainnya.

Masyarakat di Kelurahan Kuta berperan aktif dalam indistri pariwisata, hal tersebut merupakan added value, karena masyarakat turut serta dalam pengembangan sektor pariwisata. Namun negatifnya, dari segi penataan ruang masyarakat kurang berkembang. Karena masyarakat selalu berebut dalam satu titik tertentu, seperti pengembangan hotel atau penginapan, ada warga yang berbisnis dengan menggunakan sebagian area dari tempat tinggal mereka yang disewakan sebagai tempat penginapan para tamu.

Perkembangan pariwisata di Kuta, mengalami fase krisis saat bom bali pada tahun 2002 dan 2005. Dimana selain korban jiwa yang besar, ledakan bom Bali membuat perekonomian Bali khususnya sektor pariwisata turun drastis. Pemulihan pariwisata merupakan langkah awal yang harus dilaksanakan dan ditempuh selain bekerjasama dengan seluruh komponen masyarakat Bali.

Langkah yang dilakukan merupakan promosi jangka panjang dan jangka pendek Langkah jangka pendek yang dilakukan yaitu dengan mengadakan promosi pariwisata, sementara langkah recovery jangka panjang yaitu dengan menyampaikan informasi dengan dunia internasional, tentang Bali sehingga para wisatawan tidak segan lagi berwisata ke Bali, khususnya di wilayah Kuta.

Perkembangan kuta dewasa ini kian hari semakin membaik, menurut Lurah Kuta, I Gede Suparta, hal tersebut dilatar belakangi oleh place (tempat), culture (budaya) dan experience (pengalaman).Kuta memiliki tempat atau lokasi yang indah, nyaman untuk wisatawan, Kuta juga memiliki budaya hindhu yang masih cukup kental di Bali, hal tersebut tentu menjadi nilai yang dianggap menarik bagi wisatawan, selain warga yang dikenal dengan keramah tamahannya.

Aspek terakhir yang mendukung berkembangnya Kuta sebagai tujuan pariwisata Bali yaitu pengalaman dari para wisatawan. Pengalaman mereka berkunjung ke Bali akan meninggalkan kesan, kesan tersebut yang akan disampaikan kepada rekan-rekan mereka. Secara tidak langsung promosi dari mulut ke mulut tersebut dapat membantu promosi akan Bali, khususnya Kuta. Jika dilihat dari segi hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata di kuta yaitu dari sisi charity, bahwa pariwisaata begitu global. Adanya anggapan bahwa pariwisata membawa dampak negative yang dapat mempengaruhi warga masyarakat, khususnya generasi muda.

Bicara mengenai budaya, Lurah Kuta memberikan pendapatnya tentang istilah kasepekan yang selama ini hangat dibicarakan di masyarakat, dan menjadi salah satu problematika yang belum terpecahkan. Beliau berpendapat bahwa, kasepekan merupakan suatu saksi yang diberikan kepada seseorang apabila seseorang tersebut melakukan suatu kesalahan di desa adatnya, sanksinya bisa berupa pengucilan.

Di Desa adat Kuta, istilah kasepekan tersebut tidak ada, dan para warga setidaknya sudah cukup dewasa dan mengerti akan awig-awig yang berlaku di desa adat Kuta sendiri.


Sumber :
KUTA, TRADEMARKNYA PARIWISATA BALI
Wawancara dengan Lurah Kuta
I Gede Supartha S.STP

http://www.e-banjar.com/content/view/169/207/lang,en/

Sumber Gambar:
http://www.badung.com/
http://warden.babcock.ca/1.%20My%20Travels/05.%20Aug%2003%20Bali%20Indonesia/Sunset%20at%20Kuta%204.jpg
http://i259.photobucket.com/albums/hh305/pratigajirogo/SunsetdiPantaiKutaBali.jpg